Sabtu, 30 Juli 2011

MONUMEN ( Indra Tranggono )




TOKOH-TOKOH


  1. PATUNG 1/ WIBAGSO (ketika mati berusia 30 tahun, seorang laki-laki, dulunya dikenal sebagai laki-laki pengecut, namun pintar berdalih). Bertubuh tegap, atletis, berwajah tampan, teguh dalam pendirian, dan bangga dengan kepahlawanannya.
PATUNG 2/ DURMO (ketika mati berusia 30 tahun, seorang laki-laki, dulunya dikenal sebagai laki-laki pemberani). Bertubuh tambun, berwajah nyaris bopeng, tipe pahlawan yang selalu gelisah, kritis dan bahkan selalu ragu pada gelar kepahlawanannya.
PATUNG 3/ CEMPLUK (ketika mati berusia 30 tahun, nama kerennya: Nimas Ayu Bujono, seorang perempuan, dulunya bekerja di dapur umum). Bertubuh sedang, berwajah lumayan, humoris, dan kadang-kadang kritis.
PATUNG 4/ SIDIK (ketika mati berusia 33 tahun, seorang lelaki, dulunya dikenal sebagai pejuang nekat). Bertubuh gempal-kekar, temperamental, jujur, semangatnya selalu meluap-luap tapi kadang-kadang juga naif.
PATUNG 5/ RATRI (ketika mati berusia 25 tahun, cerdas, seorang perempuan cantik, dulunya dikenal sebagai mata-mata). Bertubuh sintal, berperangai genit khas penggoda, narsistis, berkepribadian rapuh.

Di samping tokoh-tokoh di atas, juga muncul tokoh-tokoh lain:

  1. KALUR/ PENCOPET (25 tahun, polos, naif, punya cita-cita besar)
YU SEBLAK/ PELACUR SENIOR (35 tahun, bersikap realistis)
AJENG/ PELACUR JUNIOR (20 tahun, lumayan kritis tapi lemah)
KAREP/ GELANDANGAN INTELEK (30 tahun, cerdas, anti kemapanan, idealis)
RM PICIS/ KEPALA KOTA PRAJA LAMA (55 tahun, feodal, sok kuasa)
DRS GINGSIR/ KEPALA KOTA PRAJA BARU (50 tahun, progressif dan pragmatis)
DEN BEI TAIPAN (45 tahun, pedagang, ambisius, militan dalam berburu laba)
ASISTEN (40 tahun,pembantu Drs.Gingsir, loyal, oportunis)
PUGUH (wakil kepala kota praja baru, 35 tahun, kritis, idealis)
PETUGAS 1, PETUGAS 2 (patuh pada perintah, over acting)
ORANG 1, ORANG 2 (gelandangan pemabuk, kasar)












KISAH RINGKAS

Sebuah Monumen Pahlawan berdiri di tengah kota Banjar Sari. Monumen itu didirikan untuk mengenang jasa pahlawan lokal yang pada masa penjajahan Belanda, gugur dalam pertempuran  di kota itu. Monumen tiu dalam keadaan terlantar, tak terawat. Sehingga justru menjadi seorang gelandangan. Di situ ’bermukim’ Yu Seblak (pelacur senior), Kalur (pencopet), Ajeng (pelacur junior), Karep (gelandangan intelek),dll.
Persoalan muncul ketika Kepala Kota Praja Lama, RM Picis merencanakan memugar monumen tiu, seiring dengan bakal dikabulkannya usulan soal peningkatan status para pahlawan dalam monumen itu, dari pahlawan lokal menjadi pahlawan nasional. Pemugaran itu juga dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan daerah: kelak monumen itu akan dijadikan objek wisata unggulan. Yu Seblak dkk, gelisah, karena terancam terusir dari kompleks monumen itu.
Namun sebaliknya, para pahlawan yang dipatungkan itu, justru berdebat sengit soal hakekat kepahlawanan. Untuk merealisasikan pemugaran dan usulan perubahan status menjadi pahlawan nasional, RM Picis –bersama asistennya, meninjau dan memilih pahlawan mana yang layak mendapat anugerah menjadi pahlawan nasional. Hanya dua pahlawan yang dipilih, yakni Wibagso dan Ratri. Masalah ini menimbulkan kecemburuan sosial bagi (arwah) pahlawan dalam monumen itu. Mereka –Sidik, Durmo dan Cempluk- tidak bisa menerima keputusan yang dipandang sangat tidak adil itu. Terjadilah apa yang disebut ”disintegrasi pahlawan” dalam monumen itu. Sidik hendak memisahkan diri –berdiri sebagai monumen-, namun ditolak oleh Wibagso dkk.
Belum terwujud pemugaran monumen itu, terjadi perubahan politik dan perubahan kepemimpinan nasional. RM Picis lengser dan digantikan Drs.Gingsir. sebagai Kepala Kota Praja Baru, Drs.Gingsir, meninjau kembali dan bahkan membatalkan rencana pemugaran monumen itu. Keputusan ini, menimbulkan kegembiraan bagi Yu Seblak dkk. Namun di balik itu, ternyata Drs.Gingsir punya keputusan lain. Yakni, menggusur monumen itu. Dan di lahan bekas monumen itu didirikan mall.


















BAGIAN SATU


PANGGUNG PERTUNJUKAN INI BERBENTUK PROCENIUM.
DI BAGIAN BELAKANG TENGAH PANGGUNG, BERDIRI SET MONUMEN. DI DEPAN SET MONUMEN ITU MENJUNTAI LAYAR PUTIH (YANG BISA DIANGKAT DAN DITURUNKAN SESUAI KEBUTUHAN). DI PANGGUNG BAGIAN SAMPING KANAN DAN KIRI, TERLETAK LEVEL YANG POSISI KEDUANYA TIDAK HARUS SIMETRIS.

DI KAIN PUTIH TERPAPAR SLIDE ATAU FILM DOKUMENTER PIDATO BUNG TOMO DISUSUL
SLIDE/ FILM: ADEGAN KOLOSAL PERJUANGAN RAKYAT/TENTARA RAKYAT. POSTER-POSTER ”MERDEKA ATAU MATI”
DISUSUL

SLIDE/FILM: PEMBACAAN TEKS PIDATO BUNG KARNO

DISUSUL
SLIDE/FILM: ADEGAN KOLOSAL RAPAT RAKSASA MERAYAKAN KEMERDEKAAN
DISUSUL

SLIDE/FILM: KERIUHAN KOTA METROPOLITAN

LAMPU BLACK OUT

 

 

BAGIAN DUA


DI DEPAN SILUET MONUMEN, YU SEBLAK DITEMANI DUA-TIGA ORANG SEDANG MEMANJATKAN DOA. DI DEPAN YU SEBLAK MENGEPUL TUNGKU DENGAN AROMA KEMENYAN. DI DEKAT TUNGKU ADA BUNGA-BUNGA SESAJI.

Yu Seblak : (nerocos, ndremimil melantunkan mantera)
            Angin dari utara, angin dari selatan, angin dari barat, angin dari timur, jadilah topan besar, nanti kuberi upah air tape. Rontokkanlah seluruh permentaan.....

MUSIK MENGALUN TIPIS

            Air, api, bumi dan angin kawallah permintaanku hingga sampai ke haribaan Gusti, awal dan akhir perjalanan kehidupan. Jagat cilik, jagat gede dan jagat setengah gede, leburlah menyatu dan menjelma jagat tunggal. Bantulah aku, Yu Seblak memanjatkan doa keselamatan. Semoga para pahlawan yang tidur damai di monumen ini diterima Tuhan secara sempurna.

YU SEBLAK MENABURKAN BUNGA DI SEKITAR MONUMEN SAMBIL TERUS NDREMIMIL:
                    

Yu Seblak :     Dhemit tidak ndulit
                     Setan tidak doyan
            Banyak orang mabuk duwit
            Njarah milik banyak orang

            Jin, engklek-engklek, banaspati
            Ada orang pendek ngaku Petinggi
            Katanya mewujudkan cita-cita reformasi
            Tapi malah hobi kolusi dan korupsi

            Tuak dicampur lotis
            Nasi basi dirubung jamur
            Banyak orang pada apatis
            Karena para pemimpin pada tawur

YU SEBLAK KEMBALI DUDUK DI TEMPAT SEMULA. MASIH KOMAT-KAMIT.
LAMPU DI AREA YU SEBLAK DKK PADAM.
LAMPU DI AREA PATUNG-PATUNG MONUMEN MENYALA. LIMA PATUNG BERGERAK HIDUP.

Wibagso :     Telah sampai di manakah perjalanan kita, Bung Sidik? Sudah ribuan purnama, ribuan singsing fajar kita mengarungi jagat sonya ruri, jagat awang-uwung. Tanpa terasa butiran-butiran keringat kita mengkristal jadi keheningan. Keheningan yang sangat purba!
Sidik : Rasanya baru kemarin kita meninggalkan jasad kita, Bung Wibagso. Sejak pasukan Belanda yang bengis dan licik itu memberondongi kita, sejak peluru-peluru mereka membusuk di jantung kita; kita rasanya tak bergerak kemana-mana.
Wibagso :        Aku tadi mendengar orang mendoakan kita. Ya...aku melihat mereka. Mereka memberi kita sesaji. Bunga-bunga, dupa, kemenyan, rokok...
Durmo :           Kurang ajar. Kita dianggap dhemit! Brengsek, malah ada yang  minta nomer segala! Ini apa-apaan Wibagso?
Wibagso :        Tenanglah. Tidak ada jeleknya membikin hati mereka gembira. Anggap saja ini sekedar intermezzo.
Cempluk :        Intermezzo ya intermezzo. Tapi kalau pahlawan sudah disuruh ngurusi togel, ini sudah kebangeten.
Ratri :           Hidup mereka gelap, rekan Cempluk. Mereka putus asa. Mereka hanya bisa mengadu kepada kita. Karena yang hidup tak pernah mengurusi nasib mereka. Mereka yang hidup, justru sibuk memompa ambisi untuk membangun tahta masing-masing. Ya, mereka jadi raja-raja kecil yang hanya bisa memerintah. Tapi tidak mengayomi.
Wibagso :     Analisismu terlalu berlebihan, Ratri. Bagiku semua itu wajar. Bukankah mereka sedang belajar berkuasa, belajar memerintah, belajar demokrasi.
Durmo :           Belajar demokrasi kok nggak ada rampungnya! Jangan-jangan, mereka sengaja berlindung di balik proses belajar, agar ketika gagal, mereka merasa sah untuk tidak bertanggung jawab!
Wibagso :        Dasar otak bocor alus! Bisanya Cuma curiga.

LAMPU DI AREA PATUNG MONUMEN PADAM.
LAMPU DI AREA YU SEBLAK DKK, MENYALA.

Yu Seblak :     Sudah...kamu punya permentaan apa?
Perempuan : Saya minta dagangan saya laris, Yu.
Yu Seblak : Lha kamu ini jualan apa?
Perempuan :    (tersipu malu) Eeee....anu.
Yu Seblak :  Jualan ”anu”? Jadi, ”anu”mu itu sekarang kurang laku? Iya?
Perempuan : Bagaimana bisa laku, Yu. Lha wong sekarang banyak garukan.
Yu Seblak :     Wah kalau soal garukan, agak repot mengabulkannya. Mosok para pahlawan yang gagah perkasa cuma kamu minta ngurusi garukan.
Perempuan :    Yah...terserah bagaimana caranya Yu Seblak. Katanya friendly?
Yu Seblak :     Friendly ya friendly, tapi saya kan harus mempertimbangkan semua permentaan secara selektip. Dan permentaanmu itu kok rasanya kurang etis, gitu lho. Meskipun kalau saya yang minta, mereka akan bilang, ”no problem”. Tapi saya kan yang sungkan. Kecuali ada harga khusus.
Perempuan :    Lho kok gitu, Yu? Pakai harga umum saja.
Yu Seblak :     Tapi permentaanmu itu tidak umum. Saya kan terpaksa pakai ”hot-line” untuk ngontak pahlawan itu. Dan itu tidak gampang. Kecuali ada (tangannya mengisyaratkan menghitung uang)
Perempuan :    Kok harus pakai ”hot-line” segala to, Yu?
Yu Seblak :     Mosok pakai SMS. Mana sempat para pahlawan itu baca SMS. Mereka itu luar biasa sibuk menerima berbagai permentaan. Kalau pakai “hot-line”, dijamin langsung sampai dan segera dipertimbangkan.
Perempuan :    Ya sudah saya pasrah. (menyerahkan uang) Tapi pasti dijamin saya tidak kena garukan kan Yu...
Yu Seblak :     Asal ada garukan kamu ndelik, pasti slamet.

PEREMPUAN EXIT

Yu Seblak :     (kepada seorang lelaki) Lha sampeyan punya permentaan apa?
Lelaki :         Ini begini, Yu. Yu Seblak kan sudah baca berita soal kasus penggelapan uang bantuan pangan untuk orang-orang miskin. Di koran-koran sudah geger kok Yu.
Yu Seblak :  (sambil menambah kemenyan) Lantas hubungannya apa dengan diriku? Mau korupsi ya silahken, mau ngrampok ya silahken. Emangnya gue pikirin! Yang penting orang macam saya ini jujur. Mosok saya ini mau korupsi menyan. Terus untuk apa? Nggo mut-mutan?
Lelaki :            Bukan begitu, Yu. Ini kasus saya. Terus terang saya ini terlibat. Karena itu, saya minta slamet. Lolos dari pemeriksaan,gitu lho.
Yu Seblak : (mengeluh) Wah...punya pasien dua saja berat-berat. Cari dukun lainnya saja.
Lelaki :         Tapi saya siap membayar dengan harga khusus. Sudah. Yu Seblak minta berapa? Saya paham kok, menggunakan “hot-line” untuk arwah-arwah pahlawan itu sangat sulit. Pulsa untuk ngontak lelembut kan mahal...
Yu Seblak :  (tersinggung dan marah) Sampeyan jangan clometan di sini. Ini tempat suci. Sakral. Punya ”permentaan” kok njijiki! Mosok pahlawan disuruh melindungi para koruptor kayak sampeyan. (nggerundel) Pahlawan je suruh ngurusi koruptor...
Lelaki :         Sorry...sorry...Bukan begitu maksud saya. Saya ini kan orang susah. Mosok tak boleh minta perlindungan.
Yu Seblak :     Tapi kesusahan sampeyan ini telah menyusahkan banyak orang! Termasuk saya! Dan lagi, saya ini nggak punya stok mantera penangkal pemeriksaan bagi koruptor. Konsultasi terpaksa ditutup. Dan sampeyan saya persilahkan go-out!
Lelaki :            Wo...kok go-out? Tapi gini Yu…ini cek. Yu Seblak mau ngisi angka berapa, terserah. Yang penting saya slamet.

LAKI-LAKI EXIT

Yu Seblak :     (memeriksa cek) Wah gimana? Kalau ini saya terima, saya bisa langsung pensiun dari jabatan paripurna saya sebagai ”pramu-nikmat” senior. Tak perlu lagi saya saban malam mangkal di sini. Saya bisa bangun rumah, beli kulkas untuk ngompres endhas, beli mobil dan kawin dengan  Kalur pacar saya...
                     Tapi kalau terbongkar? Berat saya. Akan muncul ”pramu-nikmat gate” yang pasti menggegerkan. Walah...walah...aku tadi kan cuma buka praktek dukun-dukunan. Lha kok jadi beneran. Ini gimana ya? Gini aja. Cek ini akan saya simpan. Kalau sewaktu-waktu kasus itu terbongkar, cek ini akan segera saya kembalikan. Di depan Polisi, Jaksa, maupun para anggota Dewan, saya akan bersaksi bahwa saya ini memang anti korupsi...atas nama keselamatan diri. Beres kan? Bukankah, sebaik-baik manusia adalah yang bersikap ngambang!

MENDADAK MUNCUL DUA PETUGAS KETERTIBAN UMUM. MEREKA MENCARI SESEORANG.

Yu Seblak :  Kok sampeyan-sampeyan ini pada dlajigan di sini? Ini tempat suci. Sakral.
Petugas 1 :    Kami mencari copet. Dia tadi lari menuju ke sini.
Petugas 2 :    Pasti sampeyan sembunyikan copet itu. Sudah ngaku saja. Kalau tidak malah bisa repot. Sampeyan bisa kena pasal...pasal...wah pasal berapa ya?
Petugas 1 :    Yang jelas bukan ”pasal” swalayan!
Petugas 2 :    Sekarang kamu ngaku saja! Di mana copet itu. Ayo ngaku?! Tak slomot rokok lho...
Petugas 1 :       Apa kau menyarankan saya untuk mencabuti kukumu?! Atau kamu saya sarankan secara paksa untuk tidur di atas balok es?
Yu Seblak :     (berubah marah) Mbok jangan serem-serem gitu ah...Nanti kalau saya yang dipahlawankan kayak Marsinah, situ malah repot.
Petugas 1 :       Jadi petugas itu ya harus serem. itu sudah doktrin dari atasan yang harus ditaati!
Petugas 2 :       Masak kami harus lemah lembut, bilang ”Yu...Yu Seblak, mbok sampeyan ngaku...” Ya nggak ada orang yang takut!
Petugas 1 :    Kamu kan tahu, salah satu ukuran prestasi petugas itu ya kalau bisa membikin orang lain takut. jadi yang penting menakutkan dulu, urusan lain belakangan...
Yu Seblak : Tapi meskipun saya diwajibkan takut, saya tetap bilang, kalau saya tidak tahu apa-apa.
Petugas 1 :       (mengacungkan pentungan) Jadi, sudah saya serem-seremkan begini kamu tetap tidak takut?!
Petugas 2 :       Gebuk saja!

PETUGAS SATU MENGACUNGKAN PENTUNGAN 

Yu Seblak :     (mengelus-elus pentungan petugas) Jangan gitu ah Mas...Pakai cara yang lembut saja. Saya ini suka yang lembut-lembut, Mas. Kita kan friendly. Eee copetnya emang tadi ke...
Petugas 1 :       (menyahut keras sekali) Haaa gene ngerti!! (pelan sekali penuh penghayatan) Di mana dia sekarang? Di mana?
Yu Seblak :     (lembut dan manis) Nyuwun sewu Kangmas. Panjenenganipun copet tadi lari ke sini lalu ke sana.
Petugas 2 :       (keras sekali) Ha gene ngerti!! (kepada temannya) Ayo kita buru copet itu!

DUA PETUGAS EXIT.
KALUR MUNCUL DARI BALIK MONUMEN SAMBIL MENGHITUNG UANG HASIL COPETAN.
YU SEBLAK LANGSUNG BEREAKSI.

Yu Seblak :  Lur, nasibmu benr-benar mujur ya.
Kalur : (terus menghitung uang) Mujur-mujur apa?
Yu Seblak :  Lha itu, copetanmu banyak sekali. Malah ada dolarnya segala. Banyak lagi.Edan-edan...
Kalur :          Lho, jelas. Copet profesional! Mosok yang profesional cuma koruptor thok. Copet pun wajib mengembangkan karier demi masa depan yang cerah!
Yu Seblak :     Gayamu Lur, Kalur...Apa kamu ini ya kursus nyopet? Apa kalau sudah lulus itu ya dapat sertifikat segala?
Kalur : Oooo jelas! Saya ini kursus kepribadian copet. Malah dapat gelar segala kok. MBA! Master of Bagian Ambil paksa! Gagah to?
Yu Seblak :     Dosen-dosennya apa ya dari luar negeri?
Kalur : Oooo jelas tidak. Dari sini saja. Kita orang terkenal kan punya keterampilan sempurna soal colong-mencolong. Sudah tradisi...(Kalur memasukkan dompet ke sakunya)
Yu Seblak :     (menahan tangan Kalur) Eee...nanti dulu, Lur. Jangan dikira aku nggak punya andil dalam kesuksesanmu mencopet, Lur. Kalau aku tadi nggak nyelamatkan kamu, kamu sudah digebugi petugas!
Kalur : (menyahut cepat dengan nada sinis) Lho kamu kan barusan dapat cek tho? Aku tadi ngliat sendiri kok. Cairkan segera. Cairkan sana! Dan jangan lupa, minta polisi untuk mengawal sekaligus meringkus kamu.
Yu Seblak :     Ceknya itu sudah saya buang.
Kalur :             Dibuang apa dislempitkan kutang?
Yu Seblak : Ya jelas dibuang to. Kamu ini curiga amat.
Kalur :          Lha itu, di situ, kelihatan mintip-mintip! Katanya dibuang, eh ternyata diamankan...
Yu Seblak :  Maksud saya itu dibuang di balik kutang, gitu lho...
Kalur : Kalau manut saya, cek itu buang saja. Cari makan itu yang halal. Percayalah, barang haram itu tidak akan jadi daging.
Yu Seblak :     We...baru sekarang ada copet memberi nasehat. Lha wong kamu sendiri tiap hari makan barang haram kok ngotbahi!
Kalur : (bergaya memberi ceramah) Wahai Yu Seblak yang kucinta. Ketahuilah, serendah-rendahnya copet itu masih lebih baik dari koruptor. Copet itu kan hanya menyusahkan satu orang, yaitu orang yang dicopet. Sedangkan koruptor itu menyusahkan orang banyak. Menyusahkan masyarakat dan bikin bangsa hancur.
Yu Seblak :     Walah...walah...sok suci. Copet dan koruptor itu ya sama-sama maling...
Kalur : Meskipun begitu, copet itu jauh lebih jantan daripada koruptor. Berani nanggung resiko digebugi. Bahkan siap mati. Sedang koruptor? Mereka berlindung di balik SK ini, SK itu. Dan kalau ketahuan mereka saling melempar tanggung jawab. Cokot-cokotan kayak ular.
Yu Seblak :     Kesimpulannya apa, Lur?
Kalur : (menyahut cepat) Survei membuktikan, meskipun sama-sama merugikan, tetapi pencopet jauh lebih beradab daripada koruptor. copet itu lebih fair karena tidak ada satu pun peraturan yang melindungi copet. Beda dengan koruptor, untuk memeriksa saja harus ijin sana...ijin sini...Sedangkan kalau copet, ditangkap dan diperiksa mau lapor siapa. Apa mau lapor KPHAC, Komisi Pelindung Hak-hak Azasi Copet?
Yu Seblak :     Maka...?
Kalur : Ya jelas to, lebih baik jadi copet daripada jadi koruptor!!
Yu Seblak :     Wah elok, sudah kayak politikus. Bicaranya berbusa-busa tapi mak plekenyik...nggedebus...
Kalur : (memberikan uang) Nggak usah cringis! Nyoh!!! Tapi nanti malam...nanti malam...pokoknya kamu tahu sendiri to...
Yu Seblak :     (manja, sambil menggoyang badan) Pokoknya ada uang, ya ada goyang. Tarikk mang...

PELACUR JUNIOR (AJENG) DAN KAREP (GELANDANGAN INTELEKTUAL) MASUK. MEREKA BERJALAN MESRA.

Ajeng :         Rayuan Mas Karep ini luar biasa. Percintaan kita jadi indah. Meskipun kadang-kadang terasa sedikit keras. Ya, keras tapi indah.
Karep :         Ajeng sayang, kalau ada perubahan, engkau akan kubelikan RSS, Rumah Sedikit Semen. Kita bisa bercinta di sana. Mengarungi benua-benua impian...
Ajeng :            Rayuan Mas Karep sangat puitis. Percintaan kita jadi dramatis.
Karep :            Yah, begitulah Dik Ajeng. Ternyata aku masih menyimpan sedikit bakat sebagai penyair. Orang yang tetap percaya pada kata-kata meskipun kadang-kadang hampa makna...
Ajeng :            Mas...Mas Karep sayang. Kata-katamu tetaplah sarat makna. Dan kamu telah membawaku ke dunia yang sangaaaat indah, meskipun maya....
KALUR MENGEKSPRESIKAN KEMARAHANNYA DENGAN MEMBANTING COBEK BERISI BUNGA. AJENG DAN KAREP TERHENYAK KAGET. KALUR PUN TAK MAU KALAH DENGAN PARIKAN:

Kalur :          Kapal keruk taline kenceng
                     Mata ngantuk hatinya methentheng!!

AJENG MENCOBA MENGUASAI KEADAAN, LANGSUNG MENGHAMBUR KE KALUR YANG TAMPAK KALAP.

Ajeng :         Hati siapa Mas yang methentheng?
Kalur : Ha ya jelas hati saya. Kamu pikir kalian ini Adam dan Hawa yang berada di Taman Eden? Enak saja ngumbar kata-kata mutiara, puiisiiii. Bikin kami muak tahu?!
Ajeng :            Mas cemburu ya? Bilang aja cemburu.
Kalur : Ha ya jelas, kamu telah berselingkuh dengannya...
Yu Seblak :     Kere kok ngerti selingkuh. Apa sudah pada ijab pa? Lha wong nggak ada ikatan apa-apa kok ngrembrug kesetiaan. Dan lagi kamu ini kan sedang nego dengan saya to? Kok kamu malah ngurusi Ajeng. Oooo dasar copet nggragas!
Kalur :          Kok lu jadi sewot amat? Mau cemburu kek, mau marah kek, itu urusanku. Lagian, cemburu itu hak semua bangsa. Termasuk bangsa copet.
Yu Seblak :  Jeng, kamu ini di sini cuma pelacur junior. Jangan coba-coba merebut Kalur dariku. Kalau ingin mendapatkan dia, langkahi dulu mayat saya...

MENDADAK TERDENGAR SIARAN WARTA BERITA DARI RADIO.

OS RADIO :         (setelah tuning lagu Rayuan Pulau Kelapa) Berita utama: Kepala Kota Praja Banjar Sari, Raden Mas Picis, merencanakan akan memugar Monumen Pahlawan yang terletak di Jalan Kemerdekaan. Pemugaran monumen itu, akan menggunakan dana dari APBD sebesar 3 milyar.

SUARA RADIO FADE OUT.
TAMPAK EKSPRESI KAGET WAJAH YU SEBLAK, KAREP, AJENG, DAN KALUR. LAMPU BLACK OUT


BAGIAN TIGA


MUSIK MENGALIR MENCIPTAKAN SUASANA MISTIS.
LAMPU FADE IN: MERAYAP MENUJU TERANG. LAYAR PUTIH YANG MENJADI TABIR MONUMEN ITU TERANGKAT PELAN-PELAN, HINGGA SELURUH BODY MONUMEN TAMPAK UTUH.
PATUNG BERGERAK PATAH-PATAH, SANGAT INTENS DAN PELAN.

Wibagso :     Dulu, ketika jasad kita terbujur di sini, rasanya tempat ini sangat sunyi. Tapi kini, lihatlah, gedung-gedung menghimpit kita. Cahaya lampu berpendar-pendar. Negeri ini benar-benar megah. Tapi, lihatlah di sana. Lihatlah, deretan gubug-gubug reyot dan orang-orang makan bangkai anjing. Ya ampun, bangkai anjing mereka makan dengan lahap. Dan di sana, jutaan mulut menganga menunggu lalat-lalat terjebak. Ya Tuhan...mereka mengunyah lalat-lalat itu (sedih, merintih).
Ratri :           Itu biasa, Wibagso. Dalam negeri yang gemerlap, tetap dipelihara kemiskinan untuk dijadikan ilham bagi kemajuan. Nah...kalian lihat di sana. Deretan rumah-rumah mewah yang menyimpan jutaan keluarga bahagia. Ada kolam renang pribadi, lapangan golf pribadi, mobil mewah bahkan pesawat terbang pribadi. Mereka tinggal terbang kemana mereka suka, untuk mereguk week- end atau berselingkuh dengan pacar gelap mereka.
Durmo :           Dan lihatlah di sana, di gedung pencakar langit itu. Orang-orang pesta dan berdansa. Ya ampun mereka melakukan orgi, pesta seks besar-besaran. Ya ampun, ’punya’ mereka besar-besar. Gaya mereka lebih gila dari BF sekalipun! Ah...aku jadi pengin hidup kembali.
Cempluk :        Sudah jadi arwah kok masih bisa terangsang. Arwah nggragas!
Durmo :           (tak peduli dengan guyonan Cempluk) Lihatlah, mereka juga teler bersama, lalu menumpahkan kata-kata siluman.
Sidik :  Perutku mual mendengar ocehan mereka. Ternyata mereka hanya sanggup mengurusi perut dan kelamin mereka sendiri.
Durmo :           Sementara jutaan yang lain tak lebih dari angka-angka yang ditimbun untuk dilenyapkan.
Sidik :  Saya jadi menyesal kenapa dulu aku ikut memerdekakan negeri ini.
Durmo :        Aku jadi tidak lagi ”pede” jadi pahlawan. Ternyata, kita berdiri di sini tak lebih sekedar ”memedi sawah”. Buktinya mereka tidak takut atau sungkan kepada kita. Mereka tetap menggaruk apa saja...
Wibagso :     Jangan tergesa menyimpulkan dulu, rekan Durmo. Aku rasa mereka tetap hormat pada kita. Buktinya, mereka membangunkan monumen yang megah.
Cempluk :        Megah...megah...apanya yang megah? Lha wong kita cuma ditaruh di tempat njepit kayak gini. Pahlawan kok cuma dislempitkan!
Ratri :           Kamu terlalu sentimentil rekan Cempluk. Justru kita ditaruh disini, diantara gedung-gedung mewah itu agar kita bisa menyaksikan kesuksesan anak cucu.
Sidik :           Tapi mereka menyembunyikan begitu banyak kegagalan di balik kesuksesan yang kamu banggakan itu, Ratri!
Wibagso :        Mungkin saja begitu. Dan kalau ada setitik borok di sekujur tubuh yang utuh, itu wajar.
Durmo :           Tapi bagaimana kalau setitik borok itu hanyalah tanda dari kanker besar yang menggerogoti sekujur tubuh? Bagaimana hayo...bagaimana?
Cempluk :        Aku sendiri mencium bau bacin itu rekan Durmo. Dan saking menyengatnya hingga arwahku pun bangkit. Ternyata aku mencium jiwa bangsaku yang sakit. Edan to? Orang yang segitu buanyaknya kok justru berlomba-lomba untuk sakit jiwa...
Wibagso :        Kalian ini sukanya mendramatisasi masalah. Wajarlah kalian ini terus gelisah. itu karena kalian kurang ikhlas dan terlalu banyak menuntut. Dan untuk apa kalian selalu menuntut? Toh kita sudah tak dapat lagi menikmati apa-apa. Dan satu-satunya kenikmatan hanyalah merasakan hormat anak cucu kepada kita.
Ratri :  Apalagi mereka membuatkan kita patung yang begitu sempurna, begitu cantik. Padahal sesungguhnya wajahku sedang-sedang saja, tapi manis. Meskipun kuakui banyak jerawatnya...
Cempluk :        Pahlawan kok ngurusi kukul...
Wibagso :     Tapi bagaimana pun, mereka sangat membutuhkan kita, agar mereka dikenang sebagai bangsa yang besar. Sangat wajar jika kelemahan kita ditutup-ditutupi, dipoles dan diperindah. Karena mereka membutuhkan citra pahlawan yang serba bersih, serba indah....
Durmo :        Tapi kenapa wajahku tetap saja dibuat bopeng? Mestinya kan mereka bisa membuat wajahku sedikit tampan, sedikit gagah seperti John Kennedy. Atau setidak-tidaknya searif wajah Gandhi. Tidak brangasan macam ini. Ini kan membikin trah Kanjeng Durmo jadi malu. Padahal kalian tahu sendiri, bopengnya wajahku ini kan karena cipratan ledakan granat musuh?
Cempluk :        Ah yang bener, Mo. Wajah bopengmu itu kan karena penyakit cacar? Nggak ada hubungannya dengan perang. Nggak ada. Cuma terlambat imunisasi saja...
Durmo :           Busyet!! Imunisasi Belanda, mana aku suka!
Sidik :  Syukurilah Bung Durmo. Justru bopeng wajahmu itu membuktikan kalau kamu ini pahlawan asli. Tidak dipoles-poles. Sama dengan aku. Kakiku yang cacat ini sengaja dipertahankan bengkok. Ini membuktikan aku sungguh-sungguh berjuang...
Cempluk :        Berjuang atau karena kebodohan? Jelasnya, kamu ini kan dulu menginjak ranjau yang kamu sangka nanas to? Jujur saja.
Sidik :  Kalau mau jujur-jujuran, kamu ini sebenarnya tidak layak jadi pahlawan! Apa itu dapur umum? Apa itu sayur-mayur? Ini kan gara-gara kamu waktu nguleg sambal klilipan peluru nyasar.
Durmo :           (menyahut cepat) Lalu koit. Dan langsung del...jadi pahlawan...Betapa mudahnya jadi pahlawan. Mbokku wae iso...
Cempluk :        Kok lantas ngundhat-ngundhat kepahlawananku? Dasar picik! Kamu kira pahlawan itu hanya yang manggul senjata dan dar...der...dor...klepek...klepek...klepek...Yang maunya nembak kaki tapi kena kepala itu? Iya? Lalu tanpa malu menyematkan gelar jenderal besar di dadanya sendiri itu?
Ratri :  Kalian pikir hanya laki-laki yang behak menjadi pahlawan? Sementara kami, kaum perempuan hanya berhak menunggu laki-laki pulang dan  rela dilucuti hingga telanjang? Lalu, kalian seenaknya menjelajahi setiap jengkal tubuh kami, sambil bercerita tentang dahsyatnya pertempuran. Kalian ini tidak adil, sekaligus anarkhis!
Cempluk :        Anarkhis campur sadis! (mulai menangis) Dulu semasa hidup disepelekan, sekarang pun setelah mati tetap diremehkan. Kalian ini tidak adil. Apa hanya karena aku perempuan lantas disepelekan? Kalian ini benar-benar tidak sensitif gender!
Wibagso :        Tak ada yang meremehkan kamu, Cempluk. Bahkan kami sangat bangga.
Cempluk :        Bangga-bangga apa? Lha wong patungku saja diletakkan di belakang kalian. (PAUSE) Bahkan sudah jadi patung pun, perempuan tetap diperlakukan tidak adil.
Wibagso :        Tapi peletakan patung ini ada dasarnya. Kami semua memang pantas berada di depan, karena dulu kami berjuang di garis depan. Sedangkan kamu kan cuma di dapur umum, ya pantas ditaruh di belakang. ini sudah adil.
Cempluk :        (tersinggung dan marah) Tapi kalau nggak ada dapur umum, kalian ini kaliren. Apa kalian mau makan peluru?
Durmo :           Kami akui. Itu kami akui. Tapi, kalau ditimbang-timbang, jasamu itu tidak sebesar jasa kami. Jadi, sudah cukup lumayan kamu ini dianugerahi gelar pahlawan.
Cempluk :        Lho, aku juga tidak minta dianggap pahlawan. Nggak minta, meskipun tidak juga menolak. Dari segi nama saja, aku ini memang tidak pantas jadi pahlawan. Biasanya, pahlawan perempuan itu kan namanya bagus dan gagah: Raden Ajeng Kartini, Cut Nyak Dien, Cut Mutia, Dewi Sartika atau Nyai Ageng Serang. Lha kok...Cempluk! Aku sendiri malu. Maluuuu!!! Tapi ya apa boleh buat. Biarlah fitnah kepahlawanan ini kuterima dengan suka cita...
Wibagso :        Sejarah telah menjadi gembong paling aman untuk menyimpan rahasia kita. Seluruh rahasia kita kan dilindungi sejarah, karena kita telah menyejarah. Bahkan kita adalah sejarah itu sendiri. Kita dengar sendiri, berita dari radio tadi. Monumen ini akan dipugar. Nama kita pun akan semakin menjulang. Dan generasi demi generasi bnagsa kita ini akan selalu mengenang kita.
Ratri : Itulah anugerah terindah serupa sorga. Impian terindah dari segala impian. Tak sia-sia dulu aku, dengan jantung berdegup, menerobos kantung-kantung musuh untuk mencari bocoran informasi. Para KNIL, tentara-tentara bayaran penjajah itu, begitu tololnya menyangka aku sekutu, padahal sesungguhnya aku ini seteru. Dan aku tertawa terpingkal-pingkal setiap mereka gagal menyerbu kantung-kantung gerilyawan yang mereka anggap kaum ekstemis itu. Dan kebahagiaanku pun berbuncah-buncah, ketika gerilyawan-gerilyawan kita menggempur musuh tanpa ampun.
Wibagso :        Kamu memang mata-mata yang cerdas dan cemerlang. Matamu setajam mata elang. Pendengaranmu setajam kesunyian. Aku masih menyimpan kenangan yang sangat manis. Ya, pertempuaran di Watu Gilang. Berkat informasimu, aku berhasil menghalau dan melumpuhkan musuh...
Sidik :  ”Aku”? Enak saja kau bilang ”aku”. Padahal dulu kamu lari terbirit-birit ke hutan dan ke gunung.
Durmo :           Dan tanpa malu kamu menyebut sedang bergerilya-gerilya.
Sidik :  Lalu, soal pertempuran Watu Gilang itu. Kamilah yang menghadapi musuh satu lawan satu. Kakiku yang pengkor ini menjadi saksi sekaligus tumbal keberhasilan kita menyapu serangan dan ranjau.
Wibagso :        Tapi akulah pemimpin serangan itu, Sidik. Akulah yang punya inisiatif untuk melakukan serangan fajar...
Sidik : Pemimpin? Siapa yang mengangkat kamu jadi pemimpin? Waktu itu, kami semua sama-sama pemuda yang hanya bermodal nyali.
Durmo :           Jadi, tak ada jabatan. Tak ada hierarki. Tak ada koordinator. Apalagi pimpinan produksi.
Sidik :  Jadi untuk apa kamu membangga-banggakan perjuanganmu yang kosong itu, Bung Wibagso? Kenapa kamu dan kalian (menunjuk Ratri) sibuk menghitung-hitung jasa yang sesungguhnya hampa?
Wibagso :        Sidik! Belajarlah kamu menghargai orang lain! Menghargai aku, menghargai Ratri!
Ratri :  Nyawaku, kupertaruhkan demi kemerdekaan! Juga tubuhku. Jutaan pori-pori tubuhku ini menjadi saksi, ketika ku, demi mendapatkan bocoran rencana serangan, mendadak disergap tentara-tentara bayaran yang ganas itu. Mereka melumat tubuhku. Ya, melumat tanpa ampun, di sela nafas mereka yang memburu. Tapi, sebelum serigala-serigala buas itu mengerang girang di puncak kenikmatan, tanganku berkelebat menikamkan belati di punggung mereka. Aku mengamuk. Kutikam jantung mereka, lambung mereka, usus mereka. Darah muncrat. Dan tubuh-tubuh serigala itu tumbang bersimbah darah. (PAUSE) Semula aku merasa terhina oleh cipratan noda mereka. Aku merasa hina dan jijik kepada diriku sendiri. Aku pun nyaris bunuh diri. Tapi demi matahari esok bangsa ini, kuteruskan melawan serigala-serigala itu...
Durmo :           (sinis) Penderitaan kok dipamer-pamerkan! Huh! Emangnye yang menderite cume elu? Enak aje! Gua kepret mencret!
Cempluk :        Huh...Betawi nanggung! Betawi ndeso!
Durmo :           Sewot amat lu mpok!
Wibagso :        Kalian ini bisanya cuma cengengesan dan sombong. Tak mau sedikitpun memperhitungkan pengorbanan kami. Hingga kalian tak merasa malu menganggap diri kalian paling pahlawan di antara pahlawan. Kalian lupa bahwa perang itu tidak hanya pakai otot, tapi juga pakai otak! Pakai strategi!
Durmo :           Tapi strategi tanpa nyali, bagai kepala tanpa kaki. Akhirnya ya cuma jadi hantu ”glundhung pringis”. Camkan itu, Wibagso!
Cempluk :        (menyela) Tapi otak dan otot tanpa dapur umum juga sia-sia. Camkan itu Bung Durmo!
Wibagso :        (menyela) Kenapa kita meributkan masing-masing keunggulan kita? Kenapa tidak kita maklumi saja bahwa kita saling membutuhkan.
Ratri :  Karena itu rencana pemugaran monumen dan pengajuan peningkatan status menjadi pahlawan nasional itu mesti kita rayakan bersama!

LAMPU PADAM.
MUSIK MEMBERIKAN AKSETUASI SUASANA YANG SEMULA RIANG PELAN-PELAN BERUBAH JADI SENTIMENTIL.
PELAN-PELAN LAMPU DI DEPAN MONUMEN MENYALA, HINGGA MENUJU TERANG.


BAGIAN EMPAT


KALUR, YU SEBLAK, AJENG DAN KAREP GELISAH MENDENGAR RENCANA PEMUGARAN MONUMEN. YU SEBLAK MENGGELAR PETA KOTA, MENCARI TEMPAT KOSONG UNTUK PANGKALAN DIRINYA, JIKA MONUMEN ITU BENAR-BENAR DIPUGAR.

Yu Seblak :  (menunjuk-nunjuk peta) Di sini, di belakang mall ini, bagus juga.
Kalur :          (menyahut sinis) Tapi...di situ padat. Nanti mengeluh...nggak nyaman...Kalau mau nyaman ya di perumahan...
Yu Seblak :  Cringis! (tetap asyik menunjuk peta) Kalau di sini, lumayan kosong...dan asyiiik.
Kalur :          (sinis) Tapi dekat rel, brebeg, bising. Nggak nyaman untuk indehoy. Kalau mau nyaman ya di hotel...
Yu Seblak : Cerewet! Kalau di sini, ya...ya...taman kota ini lumayan juga...
Kalur :          (sinis) Tapi sering ada garukan. Nanti digaruk, marah...
Yu Seblak : Ya...ya...di sini, dekat stasiun. Aman.
Kalur :          Tapi, banyak kerenya...Nanti dianggap kere, tersinggung. Padahal kan cuma gelandangan...
Yu Seblak :  Tapi rak...gelandangan terhormat.
Kalur :          Terhormat kok terlunta-lunta!
Yu Seblak :  Kamu ini ngapa to kok sirik? (asyik dengan petanya) Yahh...yahh di sini saja. Di alun-alun. Jembar. Malah leluasa.
Kalur :          Tapi, kalau hujan gimana?
Yu Seblak :  Oya ya...Apa arep bukak praktek wae ndadak ngedekke tendha...
Kalur :          (merebut peta) Pemugaran ini baru rencana kok kamu sibuk ngapling tempat. Memangnya yang punya kota itu kamu? Iya?
Yu Seblak :  (berusaha merebut peta) Kembalikan peta pusakaku! Balek-ke!

KALUR MELEMPARKAN PETA

Kalur :          Kemayu...apa lu kira elu ini birokrat tata kota?
Yu Seblak :  Lho...bertahun-tahun saya beroperasi ya menggunakan peta ini. Dengan peta ini, seluruh kota saya kuasai. Saya jadi tahu tempat-tempat mana yang rawan garukan...(melipat dan menyembah peta) Peta pusoko je...
Kalur :          (mencibir dan ingin merebut peta tapi tidak kena) Pusoko...pusoko opooohhhh?
Karep :         (bergaya khas intelektual) Kang Kalur, saya kira Yu Seblak benar. Kalau monumen ini dipugar, dan dijadikan obyek wisata unggulan, otomatis ada perubahan manajerial. Tempat ini harus steril dari orang-orang macam kita. Akan ada tim satpam yang menjaga kompleks ini. Orang masuk harus beli karcis. Belum lagi muncul berbagai peraturan yang mengikat.
Ajeng :         Terus bagaimana sikap kita?
Karep :         Itu yang sedang aku pikirkan!
Yu Seblak :  Mikir meneh...Pengangguran kok cuma dipikir, keburu diseruduk buldoser!
Kalur :          Sekarang kita perlu menempuh cara-cara menghadapi penggusuran ini. Itu lebih relevan dan urgen! Kita mesti turun ke jalan! Kita kumpulkan seluruh gelandangan di kota ini untuk demo. Dan saya yakin bayak LSM yang kepincut dengan proyek ini. Karena gelandangan macam kita ini sangat laris untuk dijual!
Karep :         Itu yang sedang aku pikirkan!
Kalur dan Yu Seblak :   (koor) Mikir meneh...
Karep :         Itulah bedanya aku dan kalian. Aku berpikir dulu sebelum bertindak, sedangkan kalian bertindak dulu tanpa pikiran. Yahh, level kita memang beda.
Yu Seblak :  Apanya yang berbeda? Kamu ini tak kalah gembelnya dibanding kami.
Kalur :          Bahkan kegembelanmu itu lebih serius daripada kami...
Karep :         Aku pikir memang...begitu. Tapi aku jadi gembel ini hanyalah proses. Menurut aku, menjadi gelandangan merupakan prosedur awal menjadi filosof sejati.
Ajeng :         Sejati...sejati apa? Filosof sejati tapi kok apa-apa maunya gratisan. Makan, minum, bahkan kelon pun minta gratisan.
Karep :         Itulah inti kehidupan, di mana orang saling tulus memberi dan menerima. Itulah yang disebut hidup yang sejati. Tak ada jual-beli, tak ada negoisasi.
Ajeng :         Lha kamu ini cuma mau menerima terus, tapi tak pernah memberi.
Karep :         Aku pikir...hidup ini untuk memberi, Jeng. Bukan untuk meminta.
Yu Seblak :  Filsafat lagi. Filsafat gratisan aja dibangga-banggakan. Makan filsafatmu itu,makan! Orang kita bingung mau digusur paksa kok kamu malah ngoceh...
Karep :         Lho aku ini bukannya ngoceh. Tapi memberikan ide-ide cemerlang! Menurut aku, kita perlu mendesain gerakan-gerakan yang lebih kultural dan beradab. Artinya, meskipun kita ini gelandangan, ya gelandangan yang civilized, yang beradab!
Kalur :          Apa? Gelandangan sipilis?
Karep :         (mengeja gaya intelektual yang difasih-fasihkan) C i v i l i z e d, guoblok! Sipilis itu kan penyakit favoritmu!
Kalur :          Enak aja omong sipilis. Aku ini pantang sipilis. Tapi kalau herpes atau  GO, sering. Dan lagi, kamu ini ngomong dakik-dakik, dengan ludah berbusa-busa itu ya mau apa to? Kita butuh gerakan yang kongkrit. Turun ke jalan!
Karep :         Aku pikir turun ke jalan itu kurang elegan, kurang anggun. Kita bisa protes dengan cara lain. Misalnya, sengaja meledakkan monumen ini, tanpa kita harus lari. Begitu monumen ini hancur dan kita binasa, maka kita pun akan dikenang sebagai tonggak perjuangan melawan penggusuran. Nama kita pun abadi. Dan kelak, orang-orang pun akan mendirikan monumen buat kita. Namanya, monumen...
Ajeng :         (menyahut cepat) Kere! Kamu ini gila. Kalau kita mati konyol, siapa yang peduli? Siapa? (PAUSE) Kita kan bisa mengadu ke anggota dewan. Kita beberkan semuanya. Kita juga punya hak hidup. (PAUSE) Aku sendiri, meskipun cuma pelacur jalanan, melakukan dinas malam juga untuk ngongkosi hidup keluarga, ngongkosi sekolah anak...
Yu Seblak : Wah jan elok...elok tenan... Luar biasa! Sebagai anggota korp pelacur saya bangga.
Ajeng :         Pasti Yu Seblak ini menawarkan tubuh kemana-mana itu ya untuk ngongkosi anak!
Yu Seblak :  (tenang, yakin) O ya jelas tidak! Ya, untuk senang-senang sendiri, untuk nguja joko-joko buat jamu biar awet muda. Hidup cuma sekali saja, mau apa? Mosok cuma mampir minum. Rugi. Apa orang-orang itu ya cuma hidup untuk mampir minum? Kan ya tidak to? Kalau bisa ya...mampir ngombe sambil nglethaki kepala orang banyak.
Karep :         Termasuk kepala kita ini yang diklethaki. Sebab sejak awalnya, mereka itu tidak pernah menghitung kita.

MUSIK TIPIS MENGALUN
                     Kita akan selalu terusir. Terusir bagai debu ditiup asap knalpot mobil-mobil mewah. Kamu, Yu Seblak...kamu akan terlunta-lunta menyisir kota demi kota menawarkan daganganmu kepada angin...
                     Begitu juga dengan kamu Ajeng. Hanya nasib baik serupa Pretty Woman yang akan mengangkatmu untuk dijadikan Putri Cinderella.
                     Aku sendiri, akan kehilangan habitat, kehilangan kebebasan di mana aku bisa mereguk inspirasi demi inspirasi...
                     Dan kamu, Kang Kalur...

MUSIK BERHENTI

Kalur :          (cepat memotong) Kalau aku laen! Laen! Sangat laen. (musik berhenti)
                     Aku ini copet mandiri. Bisa survive dengan keterampilan tanganku. Dengan hasil copetan yang luar biasa banyaknya, aku akan membangun rumah mewah, membangun panti sosial untuk menampung kalian-kalian ini...agar tidak jadi debu.
Yu Seblak :  (menyahut cepat) Tapi itu kalau kamu tidak keburu ditangkap dan digebyur bensin lalu dibakar! Kalau itu terjadi, akhirnya ya sama, kamu juga jadi abu...
Ajeng :         Oalah...nasib...nasib...kok tidak pernah ada enaknya. Pergi ke barat, dihardik...pergi ke timur, dicekik...pergi ke utara, dihantam...pergi ke selatan, dirajam...Oalah...nasib...nasib...


BAGIAN LIMA

MUSIK TEROMPET DAN TAMBUR MENGALUN. PENGAWAL KOTA PRAJA LAMA BERBARIS MEMASUKI PANGGUNG.  DISUSUL KEPALA KOTA PRAJA RM. PICIS DAN ASISTENNYA. YU SEBLAK, KAREP, KALUR DAN AJENG MINGGIR...

Asisten :       Saya kira, sayang sekali jika monumen sepenting dan seindah ini hanya menjadi sarang gelandangan. Saya bisa menjamin, sembilan puluh sembilan koma sembilan persen seluruh warga akan mendukung rencana kita memugar monumen luhur ini. Saya kira Bapak Kepala Kota Praja bisa sedikit menekan para anggota dewan untuk menyetujui proyek itu. Bukankah Bapak sendiri sudah ingin ganti mobil?
RM Picis :    Kalau soal cipratan proyek, kamu ini sangat cerdas dan tangkas dalam mengakali anggaran. Tapi, puji Tuhan, aku ini ternyata masih punya ketebalan iman. Meskipun, idemu soal ganti mobil itu, cukup menarik juga. (tertawa)
Asisten :       Iman dan mobil mewah itu tidak ada hubungannya Pak. Maksud saya, tebal tipisnya iman seseorang bukan menjadi faktor yang menentukan untuk memiliki sebuah atau dua buah mobil mewah. Jadi yang penting itu mobil mewah, baru iman...
RM Picis :    Tapi, jelek-jelek aku ini birokrat pejuang dan pejuang birokrat. Jadi dalam soal pamrih, aku agak kurang sensitif. Seperti soal pemugaran monumen ini. Rencana itu benar-benar murni demi menjunjung tinggi dan mengharumkan nama pahlawan. Perkara ada cipratan proyek, itu efek! (tertawa)
Asisten :       Dan kalau perlu, justru efeknya itu yang diperbesar Pak. (tertawa) Eee soal monumen ini, saya sudah melakukan loby ke teman-teman anggota dewan. Tujuh puluh tujuh persen, mereka oke.
RM Picis :    Ini bisa saya duga. Sebab, proyek ini akan mendongkrak citra kota kita, baik secara kultural maupun secara finansial. Nama kota kita akan melambung dan kas pendapatan kita pun akan menggelembung. Ini yang namanya ”sekali kayuh, dua-tiga proyek jadi rezeki”. (tertawa)
                     Coba sekarang kamu tinjau, pahlawan mana yang layak kita tingkatkan statusnya jadi pahlawan nasional?
Asisten :       (meneliti patung satu persatu. Pengamatan dimulai dari patung Cempluk, Sidik, Durmo, Wibagso dan Ratri) Kalau yang ini (menunjuk patung Cempluk) ...saya kira pengorbanannya tidak bisa diragukan. Dapur umum! Nguleg sambel matanya kelilipen peluru! Luar biasa, kan. Tapi ya itu tadi, Pak. Nimas Bujono alias Cempluk ini, sebenarnya tak punya potongan jadi pahlawan. Lihat saja wajahnya. Urat-urat yang ada di situ adalah urat-urat susah. Pahlawan kok memelas, nyremimih, kiwah-kiwih.
RM Picis :    Jadi kesimpulannya?
Asisten :       Menurut saya, tidak layak. Tapi ya terserah Bapak.
RM Picis :    Aku juga sependapat. Pahlawan itu ya harus miyayeni. Meskipun tidak harus priyayi. Kalau yang ini? (menunjuk Durmo)
Asisten :       Lha kalau yang ini, kesangarannya boleh. Setidaknya, begitu melihat patung ini, orang langsung mengkeret dan takut. Tapi ya maaf...kurang intelek!

BEGITU ASISTEN MENOLEH KE RM PICIS, PATUNG DURMO MEMUKUL KE KEPALA SANG ASISTEN ITU.

Asisten :       (kepada petugas) Kamu mukul saya ya?
Petugas :       Enggak.
Asisten :       Kurang ajar. Ngaku saja! Daripada kamu saya mutasi jadi tukang bikin wedang!
Petugas :       Berani sumpah!
RM Picis :    Sudah, sudah. Kalau yang ini (menunjuk Sidik)
Asisten :       Wah kalau yang ini, thongkrongannya boleh juga. Kayak Rambo! Lihat saja, tubuhnya yang methekol, kekar dan berotot. Tapi ya itu tadi Pak. Pahlawan yang kita butuhkan itu kan yang anggun, cerdas, berwibawa dan kredibilitasnya tidak meragukan. Dan saya kira, dia itu kurang pas. Tapi kalau Bapak mau memaksa saya untuk bilang setuju, ya boleh saja.

BEGITU MENOLEH, KEPALA ASISTEN ITU DIPUKUL DURMO. ASISTEN MARAH-MARAH KEPADA PETUGAS YANG DISANGKA MEMUKULNYA.

Asisten :       Kamu mukul aku lagi ya?! Mukul aku lagi ya?!
Petugas :       Sumpah demi proyek, saya tidak memukul Anda.
Asisten :       Awas, nanti kumutasi jadi tukang kosek WC! (kepada Pak Gingsir) Gimana Pak dengan ide saya tadi? Kalau Bapak mengharapkan saya untuk bilang setuju, saya tidak keberatan lho Pak...
RM Picis :    Biasanya saya memang selalu menseyogyakan orang untuk selalu bilang setuju. Kali ini kok saya kurang berselera begitu. (PAUSE) Pendapatmu betul. Kita butuh simbol kepahlawanan yang mencerminkan keberanian, kecerdasan, kejujuran, dan kewibawaan. Saya kira dua pahlawan ini (menunjuk Wibagso dan Ratri) yang cocok dengan kriteria itu. Apalagi tim peneliti sejarah kepahlawanan lokal yang saya bentuk, sudah memberikan rekomendasi pada dua pahlawan itu.

WIBAGSO DAN RATRI MENOLEH KE SIDIK, DURMO DAN CEMPLUK, DENGAN WAJAH SENYUM, PENUH KEMENANGAN.

Asisten :       Persis! Saya kira hanya Raden Mas Wibagso dan Den Rara Ratri yang layak untuk menerima peningkatan status menjadi pahlawan nasional. Mereka adalah sepasang pahlawan yang akan menjadi ilham bagi anak cucu.
RM Picis :    Saya akan segera memproses usulan ini ke Pusat. Kamu siapkan budget proyeknya. Cari juga arsitek yang handal untuk merancang monumen ini.
Asisten :       Siap!
RM Picis :    Laksanakan!

MUSIK DRUMBAND, ROMBONGAN RM PICIS EXIT.
LAMPU BLACK OUT.


BAGIAN ENAM

LAMPU YANG MENERANGI MONUMEN MERAMBAT PELAN, MENUJU TERANG. LIMA PATUNG BERGERAK SECARA KOREOGRAFIS.

Sidik :           Licik! Culas! Buta sejarah! Ternyata kita ini tidak dianggap. Ternyata kita ini murahan!
Durmo :        Ternyata kita hanya dijadikan pelengkap penderita yang benar-benar menderita!
Cempluk :     Aku akan mengajukan pensiun dini sebagai pahlawan, daripada nggejejer di sini hanya jadi penggembira. Penggembira yang pilu!
Durmo :        Inilah malangnya pahlawan. Tak boleh misuh-misuh, tak boleh memaki. Padahal kita telah dihina habis-habisan . Dihina total!
Wibagso :     Tak ada yang harus merasa terhina. Apalagi hanya karena status yang berbeda. Dan kita tak kuasa memprotesnya, karena hal itu merupakan keputusan yang lahir dari berbagai pertimbangan.
Durmo :        Aku semestinya tidak risau dengan gelar kepahlawanan. Tapi melihat mereka yang dengan semena-mena menciptakan kelas-kelas, darahku jadi mendidih. Umeb!
Sidik :           Mereka tak punya hak untuk menganggap kami ini pahlawan kelas kambing, sedang kalian pahlawan kelas utama. Kayak sepur saja!
Ratri :           Tapi mereka menguasai sejarah. Dan berdasarkan fakta-fakta sejarah itu mereka membikin kelompok-kelompok, kategori-kategori berdasarkan kriteria...
Sidik :           Sejarah yang mana? Sejarah siapa? Enak saja bilang ”ini layak dan itu tidak layak”. Apa kalian pikir derajat kami lebih rendah dari kalian?
Cempluk :     Kalau aku masih hidup, kukembalikan gelar pahlawan itu. Mereka ternyata cuma basa-basi.
Wibagso :     Seluruh pahala kita akan batal hanya karena kemarahan kita.
Cempluk :     Untuk apa mempersoalkan pahala? Sia-sia. Sebab, malaikat pencatat pahala sudah tutup buku. Kita tinggal tunggu hasil penghitungan...
Wibagso :     Tapi di balik sikap sok suci, ternyata kalian menyimpan pamrih yang lebih mengerikan . Kalian ternyata munafik!
Durmo :        Tunggu dulu Wibagso! Kamu lihat sendiri, kami tak pernah menghitung-hitung jasa dan sibuk mengejar kehormatan. Bahkan ketika masih berjuang pun, kamu lihat sendiri, bagaimana aku justru menghilang ketika seorang panglima besar memuji keberhasilan kita dalam pertempuran merebut benteng musuh.
Sidik :           Kalau mau, bisa saja waktu itu kami mencatatkan diri menjadi anggota pasukan Panglima Besar itu. Aku yakin, jika aku bisa menikmati kemerdekaan, aku pasti akan mendapat pangkat kaprajuritan yang tinggi. Dan kelak, ketika merdeka, kami bisa jadi petinggi yang bisa memborong proyek. Tapi, puji Tuhan, aku keburu tertembak musuh dan mati, sehingga aku terbebas dari berbagai godaan pamrih.
Durmo :        Begitu pula dengan aku. Sebelum aku menemui ajal, aku berwasiat agar keluargaku, seluruh keturunanku tidak perlu mengungkit kepahlawananku, hanya demi uang tunjangan yang tak seberapa harganya dan itupun masih banyak potongannya.
Cempluk :     Aku sendiri tak peduli dengan semua ini. Sebab, aku sendiri sangat membenci perang. Kalau aku berjuang, itu karena kau ingin membalaskan dendamku. Ya, karena suamiku dicincang pasukan Belanda.
Ratri :           Tapi suamimu memang jadi mata-mata para gerilyawan. Aku sendiri sering menerima bocoran informasi dari suamimu.
Cempluk :     Bukan. Suamiku bukan mata-mata. Dia hanya tukang sapu Gubermen Mister Van Der Moouten. Kalau dia sering membocorkan rahasia musuh, itu kuakui. Tapi dia bukan mata-mata.
Wibagso :     Lantas apa yang kalian tuntut? Kenapa kalian merisaukan munculnya gelar pahlawan nasional yang kebetulan tersemat di dadaku dan dada Ratri?
Durmo :        Kami menolak penggolongan-penggolongan, kelas-kelas kepahlawanan. Bagi kami hanya ada satu kepahlawanan, yaitu kepahlawanan sejati, kepahlawanan rohani.
Sidik :           Apa alasan Raden Mas Picis mengangkat kamu dan Ratri sebagai pahlawan nasional? Apa? Selain hanya karena kamu Wibagso, adalah kakek buyut Raden Mas Picis. Juga karena kamu Ratri, kamu masih saudara dengan Wibagso.
Durmo :        Kenapa hanya soal gelar kepahlawanan saja kalian ini kolusi? Kebangeten!
Cempluk :     Dan yang menyakitkan lagi, sementara kita harus berdiri nggejejer di sini, kita harus rela menjadi tontonan para turis. Padahal turis-turis itu belum tentu menganggap kita pahlawan mereka. Sebab, mereka punya pahlawan sendiri. Kita menjadi pahlawan yang dipaksakan. Gendheng! Kalau tahu begitu, sudah sejak dulu aku turun dari sini. Atau sekarang aku harus turun...! Akan kugalang seluruh arwah pahlawan yang tertindas untuk demo besar-besar di balai Kota Praja.
Wibagso :     Kalian ini ternyata kanak-kanak. Yang hanya bisa merengek. Kalian lupa pada kepentingan yang lebih besar: kebanggaan sebuah bangsa. Kenapa kita tidak mau sedikit berkorban?
Durmo :        Ini bukan soal rela dan tidak rela berkorban Wibagso. Tapi soal harga diri.
Sidik :           Posisi kita memang berbeda! Bagaimanapun monumen ini harus dibelah menjadi dua. Kalian di sana! Kami di sini!
Cempluk :     Aku di situ. Berdiri sebagai monumen sendiri. Monumen Cempluk!
Ratri :           Itu penyelesaian kanak-kanak. Bagaimana mungkin kita hadir di sini dalam keadaan tidak lengkap? Bahkan terpecah-pecah? Sudahlah, lupakan soal gelar kepahlawanan. Kita tetap harus utuh sebagai monumen.
Cempluk :     Bagaimana bisa utuh, kalau kami selalu diakali?

LAMPU BLACK OUT.
LAYAR PUTIH TABIR MONUMEN TURUN. DI LAYAR ITU TERPANTUL BERBAGAI SLIDE SEPUTAR MELETUSNYA REFORMASI.
LAMPU DI SALAH SATU SISI PANGGUNG TERANG.
TAMPAK PENYERAHAN KEKUASAAN DARI KEPALA KOTA PRAJA LAMA (RM PICIS) KE DRS GINGSIR.
LAMPU BLACK OUT.


BAGIAN TUJUH

MUSIK MENGHENTAK-HENTAK (BISA DANGDUT).
DI LAYAR PUTIH TERPAMPANG SLIDE-SLIDE MELERTUSNYA REFORMASI.
PERGANTIAN KEPEMIMPINAN DISAMBUT HANGAT KOMUNITAS MONUMEN. KALUR, AJENG, YU SEBLAK DAN KAREP MENGUNGKAPKAN KEGEMBIRAANNYA, DENGAN BERJOGET, ATAU APA SAJA. KALUR MUNCUL DARI DALAM, MENGHENTIKAN PESTA DAN BERPIDATO BAK PEMIMPIN BARU.

Kalur :          (keras) Stop. Stop. Seeeetttttoooooop! Hoop! Rakyatku sekalian, dengarkan aku mau berpidato.

MUSIK BERHENTI MENDADAK.
ORANG-ORANG BEREAKSI KECEWA.

Orang 1 :      (mabuk) Lu jangan seenaknya ngebacot, Lur. Gue kepret, kapok! (mencengkeram kerah baju Kalur) Apa situ di sini mau menthol, mau njago? (siap memukul)
Orang 2 :      (melerai, juga dalam kondisi mabuk) Bedem ya bedem Dul, tapi yang rukun. Jadi boleh mabuk asal rukun. Slow aja...Everything is allright...
Kalur :          (ketakutan) ndak...ndak...saya cuma mau menyampaikan berita kok. Soal anu ook...soal anu ook....
Karep :         Berita? Berita apa? Aku pikir kita semua sudah tahu kalau Raden Mas  Picis sudah lengser. Dan digantikan Doktorandus Gingsir menjadi Kepala Kota Praja Baru. Koran-koran sudah memuatnya. Headline, lagi...
Kalur :          Tapi itu kan berita koran tadi pagi. Yang saya baca ini koran sore. Sepulang dari dinas di stasiun tadi, saya beli koran.
Orang 2 :      (mabuk) Dinas...dinas...dinas apa?
Kalur :          (kesal) Haa yaa...jelas menjalankan dinas pungutan sosial suka paksa, Nyuk!
Orang 2 :      (mabuk) Oooo jadi kamu sekarang kerja di lembaga sosial?
Kalur :          Nyopet, guoblok!!!
Orang 2 :      Oooo nylompret....Jadi pemusik ya?
Kalur :          (kesal) Nyopeeettt, Nyuk! N y o p e t! (memperagakan tangan mencopet)
Orang 1 :      (mabuk) Oooo k l o s e t! Mbok sejak tadi bilang kamu berak di stasiun!
Kalur :          (makin kesal) Kok ngising to? Nylompret...nylompret...(memperagakan orang meniup terompet)
Orang 2 :      (mabuk) Oooo n y o p e t! Terus?
Kalur :          (bergaya orator) Di koran itu, Bapak Drs.Gingsir mengatakan, bahwa selaku pimpinan yang dipilih oleh rakyat secara demokratis, maka dia akan memihak rakyat.
Karep :         Sebentar,sebentar...dipilih secara demokratis itu artinya tidak pakai money politic?
Kalur :          Biarpun pakai money politic, tapi kan tetap demokratis. Lagi pula, pemilihan pemimpin zaman sekarang ini, kalau tak ada money politic, kan nggak ilok. Tabu, gitu lho. Tapi yang penting Bapak Drs.Gingsir itu mau memperjuangkan kepentingan orang banyak.
Karep :         Klise! Klise! Dulu RM Picis juga bilang begitu? Tapi buktinya?
Yu Seblak :  He filosof amatiran, mbok jangan cringis. Kritis ya kritis , tapi jangan cringis. Lanjutkan Lur. (tegas)
Kalur :          Beliau menandaskan, begini, “Pemerintahan yang baru ini didesain secara efektif dan efisien. Karena itu, setiap kucuran dana harus melalui pertimbangan f e a s e b i l i t y dan azas kemanfaatan bagi publik. Dus itu artinya, pemerintah akan memangkas program-program yang dipandang tidka efektif dan efisien. Dan semua program akan diarahkan pada pertumbuhan ekonomi. Hanya dengan caa ini kita bisa memasuki pasar bebas”.
Ajeng :         (marah) Pidato apa itu? Bikin bingung saja. Lur! Yang penting bagaimana nasib kita ini?! Nasib kita! Jangan malah ngelantur...
Kalur :          Lho kok malah memelototi saya. Ya sana marah pada Pak Gingsir...
Karep :         Substansinya Lur...substansinya apa? Dan apa relevansinya bagi kita.
Kalur :          (kalem) Hadirin dilarang cringis! Eee soal yang berkaitan dengan kita, tentu saja ada. Ada. Yaitu bahwa...

LAMPU DI AREA BAWAH (TEMPAT KALUR CS) PADAM. KEMUDIAN LAMPU YANG MENERANGI AREA LAIN, YAKNI TEMPAT DRS.GINGSIR MEMBERIKAN PERNYATAAN PERS KEPADA TIGA WARTAWAN, MENYALA.

Drs.Gingsir : Rencana pemugaran monumen Pahlawan Kemerdekaan kami nilai mubazir. Karena itu, atas nama menjunjung tinggi azas kemanfaatan dan pertumbuhan ekonomi, maka rencana itu dibatalkan.

LAMPU DI AREA GINGSIR PADAM.
LAMPU DI AREA YU SEBLAK CS MENYALA.

Yu Seblak :  (senang) Dibatalkan?! Apa kamu nggak salah dengar?!

LAMPU DI AREA KALUR CS PADAM.
LAMPU DI AREA DRS. GINGSIR MENYALA.

Drs.Gingsir : Benar. Dibatalkan. Tulis itu! (PAUSE) Dana pembangunan monumen sebesar tiga milyar dari APBD akan dialihkan untuk mengatasi krisis ekonomi, lewat penyaluran bahan pangan, obat-obatan dan peningkatan pendidikan. Tentu saja tidak gratis. Tapi yang jelas murah.

LAMPU DI AREA GINGSIR CS PADAM.
LAMPU DI AREA KALUR CS NYALA.

Kalur :          Jadi, mulai detik ini, kita semua dilarang bingung dan cemas. Pak Gingsir sudah baik hati. Tidak nguthik-uthik monumen ini.
Karep :         Aku pikir, itu bukan baik hati. Tapi kewajiban.
Yu Seblak :  Cringis meneh! Tak tampeg parut kapok kowe! Mbok sudah, kita nggak usah macem-macem. Yang penting kita bisa tinggal di sini, sudah cukup. Jatahnya wong cilik itu ya cuma manut atasan. Pokoknya, keputusan ini harus kita rayakan. Musik!!!

MUSIK MENGHENTAK.ORANG-ORANG BERJOGET DAN MENGALUN LAGU YANG MENDAYU: LAGU ORANG TERBUANG.

                     Langit tak jadi mengusir kita
                     Kita tetap berpijak di bumi yang sama
                     Bumi kita yang ramah, bumi kita tercinta

                     Akankah badai mencabik kita
                     Akankah harapan jadi tiada
                     Marilah bersembunyi di rongga dada

                     Orang terbuang selalu jadi layang-layang
                     Melayang tanpa benang, ditiup badai kencang
                     Singgah di awan, membangun negeri di angan
                     Mabuk impian memeluk harapan

MUSIK BERHENTI.
LAMPU BLACK OUT.
BAGIAN DELAPAN

LAMPU DI AREA GINGSIR CS MENYALA.
GINGSIR, PUGUH (WAKIL KEPALA KOTA PRAJA) DAN DEN BEI TAIPAN
SEDANG BERDIALOG SOAL KEMUNGKINAN KERJA SAMA.

Den Bei Taipan :   Kota ini akan menjadi kota metropolitan yang gemerlap. Kota impian dari segala impian. Pokoknya fantastis! Berdasarkan insting bisnis saya, kota ini akan melampaui Jakarta. Ya setidaknya bisa sejajar lah. Asal Bapak Gingsir bisa merangkul konglomerat macam saya...(tertawa)
Drs. Gingsir :Saya kira Den Bei Taipan terlalu berlebihan. Kota ini terlalu kecil untuk menjadi metropolitan.
Den Bei Taipan :   Jangan terlalu merendah, apalagi kalau merendah untuk sombong, Pak Gingsir. Anda ingat Singapura? Negara itu hanyalah pulau kecil, yang mungkin luasanya sama dengan kota ini. Tapi, lihat sendiri. Singapura menjadi kota bisnis paling menyilaukan di Asia. Kuncinya sederhana: terbuka bagi penanaman modal asing.
Puguh :         Saya kira, biarlah kota kami ini menjadi kota kecil yang nyaman bagi penghuninya. Kami sudah sangat bangga dengan sebutan kota budaya. Kota yang sudah melahirkan berjuta orang pandai di negeri ini, kota yang nyaman untuk menetaskan berbagai pemikiran...Maaf, Den Bei, tidak terlalu berlebihan kalau kota ini mempunyai banyak sekali local genius! apalagi orang-orang lokal yang merasa sok genius...
Den Bei Taipan :   That’s right! That’s right! Tapi begini Bung Puguh. Kalau you mengikuti perkembangan kota-kota besar di dunia, maka kita tidak mungkin mengelak dari gelombang besar pasar bebas, yang menjadi bagian erat dari gelombang kesejagadan. Ya, gelombang mondial and gelombang yang membikin dunia ini hanya sebesar kelereng. (PAUSE) Maaf...anda punya internet?
Puguh :         Sorry Den Bei. Internet saya malas mengakses situs-situs perdagangan yang tidak jelas juntrungannya...
Den Bei Taipan :   Tapi perdagangan itu sangat eksak. Laba dan rugi itu jelas. Investasi, saham dan valas juga jelas definisinya. Jadi, saya sedikit merasa aneh mendengar ada orang bingung, sehingga kurang bia membedakan antara  valas dengan talas.
Drs.Gingsir : Maaf Den Bei Taipan. Saya kira Bung Puguh ini bukannya tidak tahu, tapi sengaja tidak mau tahu. Maklum, dia dulu kan seniman yang kini tersesat menjadi birokrat. (tertawa)
Den Bei Taipan :   Tersesat atau menyamar? Jangan-jangan karena beliau ini gagal jadi seniman, maka malik grembyang jadi birokrat (tertawa). Eee kembali pada tawaran saya. Kalau Bapak setuju, saya akan mendirikan mall di sini. Tidak banyak, cuma lima. Saya lihat, kota ini memiliki daya beli yang kuat.
Drs.Gingsir : Lahan kami terlalu sempit, Den Bei. Kami terlanjur merencanakan pembangunan pembangungan berbagai sekolah kejuruan di tanah-tanah yang kosong.
Den Bei Taipan :   Tapi bisnis mall ini sangat menjanjikan, Pak Gingsir. Prospeknya sangat cerah. Jadi terlalu sayang untuk tidak dipikirkan. Dan saya siap menginvestasikan uang saya. Tidak dalam bentuk rupiah. Tapi dolar US. Ya dolar!!! Saya memang kurang terbiasa dan terlatih menggunakan rupiah. Nah...soal keuntungan, nanti bisa kita atur. Biasanya 30:70 persen.
Drs.Gingsir : Tawaran yang menarik juga. Tapi untuk membangun lima mall di sini, terlalu sulit.
Den Bei Taipan :   Tapi, soal pembagian keuntungan bisa dinegoisasikan, Pak Gingsir. Bagaimana kalau 35:65. itu sangat logis. Bapak tahu sendiri kan, berapa juta dolar uang saya yang harus keluar...sementara margin keuntungannya sangat tipis...
Drs.Gingsir : Tawaran yang menarik juga. Tapi, maaf, lahan kami terlalu sempit untuk itu.
Den Bei Taipan :   Bagaimana kalau 40:60. Ini peningkatan yang sangat progresif. Tidak ada pedagang gila dan baik hati macam saya...
Drs.Gingsir : Sebentar-sebentar. Saya kok jadi ingat, masih ada lahan yang bisa dimanfaatkan. Ya...di alun-alun. Kita bisa membangun dua mall di sana. Juga di kompleks museum perjuangan yang juga terlantar. Dan satunya, di...di...Monumen Joeang yang terlantar. Daripada jadi lahan bursa seks kere kan mendingan untuk mall...
Den Bei Taipan :   Ternyata Pak Gingsir ini cerdas. Ya setidaknya mendadak cerdas. (tertawa)
Puguh :         Tapi sebentar, Pak Gingsir. Apakah hal itu tidak melanggar undang-undang ordonansi? Bukankah setiap warisan bangunan ataupun monumen itu dilindungi?
Drs.Gingsir : Kalau soal itu, aku lebih tahu. Itu gampang diatur. Saya bisa menjelaskan gagasan cemerlang ini pada anggota dewan yang semuanya adalah teman kita.
Puguh :         Saya kira tidak semua anggota dewan bisa dikuasai...
Drs.Gingsir : Ah itu kan teori. Dan saya punya cara...Percayalah...
Puguh :         Tapi mereka itu idealis. Bahkan militan. Komitmen sosial mereka sangat kuat.
Drs.Gingsir : Itu kan sebagian. Dan sebagian yang lain belum tentu. Dan biasanya jumlah mereka lebih besar...
Puguh :         Tapi maaf Pak...Saya kira kita tak bisa mengorbankan warisan nilai sejarah. Bagaimana mungkin sebuah bangsa bisa berkembang tanpa tahu sejarah? Kita hanya akan menghasilkan berjuta-juta Malin Kundang yang akhirnya menghardik ibunya.
Drs.Gingsir : Tapi kota ini juga punya jutaan perut yang bisa lapar. Kota ini juga punya berjuta mulut yang berhak untuk makan...
Puguh :         Saya sangsi jika hal itu yang jadi pertimbangan utama kebijakan gila ini.
Drs.Gingsir : Puguh! Bagaimanapun kamu ini hanya wakil saya. Dan kamu tak lebih dari pembantu saya...
Puguh :         Tapi saya berhak mengontrol Saudara!
Drs.Gingsir : Apa? Kamu panggil aku dengan sebutan “saudara”? Kurang ajar. Tidak sopan.
Puguh :         Sikap hormat dan sopan hanya berlaku bagi orang yang bertindak sopan. (PAUSE) Dengan menerima tawaran ini, Saudara telah berbuat tidak sopan terhadap aturan yang disepakati bersama. Saudara ternyata tak lebih dari pialang, tak lebih dari broker...tak lebih dari makelar...
Drs.Gingsir : Alangkah indahnya sumpah serapahmu itu, Puguh? Kuakui, aku memang makelar. Sekarang ini mana ada pemimpin yang tidak menjalankan fungsi makelar? Mana ada? Kamu boleh kecewa. Tapi seluruh kecamanmu yang indah itu, tidak akan menggugurkan keputusanku. Monumen itu harus digusur!
Puguh :         Kalau begitu tidak ada gunanya saya jadi wakil Saudara. Mulai detik ini saya mengundurkan diri!!!
Drs.Gingsir : Itu lebih bagus, daripada kamu menjadi duri dalam daging!

LAMPU PADAM.
MUSIK MENGHENTAK, KEMUDIAN MEMBEKU BEBERAPA SAAT, DAN KEMUDIAN MENCAIR DAN MENGALIR PELAN.


BAGIAN SEMBILAN

LAMPU DI AREA MONUMEN MENYALA. PATUNG-PATUNG BERGERAK.

Wibagso :     Pengkhianat! Pongah. Sombong! Arogan! Busuk! Penguasa demi penguasa datang, ternyata hanya berganti nama. Mereka tetap saja menikam kita dengan pengkhianatan demi pengkhianatan.
Ratri :           Kita tak lebih dianggap sekadar bongkahan batu yang memukau. Bongkahan batu yang membeku. Bongkahan batu yang malang dan menyedihkan. Mereka hendak melempar kita, menggerus kita menjadi butiran-butiran masa silam yang kelam.
Wibagso :     Jiwa-jiwa yang gelap, jiwa-jiwa yang kelam, alangkah menyedihkan. Mereka selalu gagal membedakan antara sinar dengan kemilau cahaya impian, yang sesungguhnya tak lebih dari fosfor yang mematikan. Fosfor yang menguap dari tumpukan jasad orang-orang mati atau yang terpaksa dimatikan, demi impian yang penuh tipu daya. Dan kita dianggap bagian dari orang-orang mati itu. Padahal kita tidak pernah mati. Tidak pernah mati. Hanya tubuh kita yang hancur, dan mencair diurai bakteri. Tapi ruh kita tetap hidup. Bahkan perkasa.
Durmo :        (sinis) Alangkah malangnya kalian para pahlawan kelas utama. Nama kalian akan menjulang, bahkan justru ditenggelamkan demi gemerincing kin-koin uang.
Cempluk :     Bagi kami, pahlawan kelas kambing, penggusuran ini bukan masalah.
Sidik :           Kehormatan tidak terletak di lencana-lencana, di piagam-piagam, bahkan juga di monumen-monumen. Kehormatan berada dalam harga diri yang terus ditegakkan.
Wibagso :     Kenapa kalian justru tertawa? Padahal kita hendak dihancurkan. Kehormatan kita telah diinjak-injak atas nama laba dan angka-angka. Kenapa kalian tetap memelihara kebencian, memelihara kedengkian dan menghitung-hitung untung-rugi? Buldoser itu segera menggilas kita. Lihat mereka datang. Berderap-derap. Moncong mereka yang bengis segera melumat kita.

MUSIK PENGGUSURAN MENGGEMURUH.
MUSIK MELEMAH, DAN SIDIK BERDIALOG.

Sidik :           Hadapilah Wibagso, hadapilah. Kenapa pahlawan bangsa kelas utama takut melawan buldoser?
Durmo :        Rasain lu, sekarang gigit jari! Kalau gue sih enteng-enteng aja. Cuma bul...doser aja. Ya...cuma melawan bul...doser saja takut!
Wibagso :     Ternyata kalian hanya bisa sinis! Kalian tidak sadar, bagaimanapun aku dan Ratri adalah bagian dari kalian. Kita berjuang bersama-sama, mengusir musuh bersama-sama, gembira bersama-sama, dan sedih bersama-sama.
Cempluk :     Tapi menjadi pahlawan nasional tidak bersama-sama...
Ratri :           Dasar picik! Ini bukan persoalan pahlawan kelas utama atau pahlawan kelas kambing. Tapi harga diri kita sebagai pahlawan...
Wibagso :     Penistaan ini tidak bisa dibiarkan. Lihat, buldoser-buldoser itu makin mendekat. Kita tetap bertahan! Ya bertahan! Lawan mereka!

SUARA DERU BULDOSER TERUS MEMBAHANA. DURMO, CEMPLUK DAN SIDIK TAK “TERPROVOKASI” OLEH WIBAGSO. MEREKA TETAP TENANG DALAM SUASANA KALUT ITU. SUARA BULDOSER TERUS MENDERU.

Ratri :           Bertahan! Kita tetap bertahan di sini! Kita mesti buktikan bahwa kita tidak seremeh yang mereka duga!

SIDIK, DURMO DAN CEMPLUK TAMPAK TENANG-TENANG MELIHAT ADEGAN YANG SERU ITU.

Wibagso :     Kenapa kalian malah diam? Bantu kami. Tunjukkan kalau kita punya harga.
Sidik :           Wibagso, kalau kami melawan buldoser-buldoser itu, kami tidak sedang membela kepongahan sebagai pahlawan. Tapi membela harga diri yang diinjak!
Wibagso :     Aku tak meminta penjelasan. Tapi minta kejelasan sikap kalian. Ayo lawan mereka! Lawan!

SIDIK, DURMO DAN CEMPLUK BERGEGAS MENGHADAPI BULDOSER.

Sidik :           Dasar rakus! Kalian hendak membunuh kami untuk yang kedua kalinya! Kenapa kalian bisa berjaya hanya dengan membunuh?
Durmo :        Dasar tamak, loba, nggragas dan ngongso! Batu saja kalian makan! Kenapa kalian sedikit bisa berbagi, dengan membiarkan kami bersemayam di sini? Kenapa?
Wibagso :     Durmo! Kenapa nyalimu mendadak lumer? Tidak sepantasnya pahlawan itu mengemis! Kita lawan mereka! Kita lawan!

MUSIK MENGGEMURUH.
PANGGUNG DI BAWAH MONUMEN MENYALA.
YU SEBLAK, KALUR, KAREP, AJENG DLL MENCOBA MELAWAN DESAKAN BULDOSER.

Yu Seblak :  Kita tetap bertahan. Tetap bertahan. Lebih baik mati di sini daripada selama hisup dikutuk jadi kecoa, jadi tikus celurut...Kita bertahan! Bertahan! Kita harus pertahankan liang kita! Kalur...Karep...Ajeng...di mana kalian?!
Koor :           Kami siap di sini! Di belakangmu!
Yu Seblak :  Kita lawan mereka! Kita labrak mereka!
Kalur :          Kita tak bisa diremehkan!
Karep :         Aku pikir kita juga punya hak hidup! Kita mesti mempertahankan!
Ajeng :         Dasar busuk! Kalian hanya bisa merampas. Kalian tidak pernah membari. Kalian hanya bisa meminta dan mengambil!

KALUR, YU SEBLAK, KAREP DAN AJENG MEMBENTUK KOREOGRAFI MENGHADAPI GEMPURAN BULDOSER. BEGITU PULA DENGAN WIBAGSO DKK.

Wibagso :     Lihatlah, mereka yang hanya gelandangan pun berpihak pada kita. Kalian mestinya malu. Ayo kita lawan buldoser-buldoser itu. Kita sikat mereka.
                     Durmo, menyusuplah kamu ke mesin. Cabut selang bensinnya. Hancurkan mesinnya. Sidik, meloncatlah kamu ke ruang kemudi. Cekik leher sopir itu! Ratri, hentikan roda buldoser itu! Dan aku...aku akan membungkam moncong buldoser itu...

MUSIK TERUS MENGGEMURUH.

Yu Seblak :  Kalur! Halau penggusur-penggusur itu!
Kalur :          Aku tak berani. Mereka ternyata banyak sekali!
Yu Seblak :  Karep...tahan moncong buldoser itu! Tahan!
Karep :         Mana aku kuat? Aku pikir buldoser itu terlalu kuat untuk dilawan. Kita menyingkir saja daripada mati konyol! Menyingkir!
Kalur :          Ya menyingkir saja! Sia-sia kita melawan mereka.
Karep :         Aku pikir memang sia-sia. Sedang terhadap para pahlawan saja mereka tek memberi harga, apalagi terhadap kecoa macam kita!
Yu Seblak :  Kalian benar-benar gembus!

DERU BULDOSER TERUS MEMBAHANA.
KAREP, KALUR DAN AJENG MENYINGKIR. TINGGAL YU SEBLAK SENDIRIAN.

Yu Seblak :  Kalian benar-benar pengecut! Heh, kenapa kalian lari? Kenapa? Munyuk! He buldoser yang sombong, tabrak aku kalau berani! Tabrak aku!

MUSIK TERUS MENGGEMURUH. YU SEBLAK JATUH TERGILAS.
MUSIK TERUS MENGGEMURUH, PATUNG-PATUNG BERGELIMPANGAN.
MUSIK BERHENTI. TINGGAL KESUNYIAN.

Ratri :           Kita telah dibunuh untuk yang kedua kalinya.
Cempluk :     Kita telah dibunuh untuk yang kedua kalinya.
Sidik :           Kita telah dibunuh untuk yang kedua kalinya.
Wibagso :     Ternyata, bagi kalian, kami ini tak lebih dari onggokan kenangan buram. Kenangan buram yang harus dibakar agar kalian bisa tidur tenteram di atas tumpukan keculasan. Kalian sangka, impian besar kalian ini kemajuan, padahal penghancuran.
                     Kenapa kalian tak mau menghentikan jatuhnya korban yang tak terkira nilainya?
                     Kenapa?!
                     Bisakah kalian membangun tanpa menghancurkan?
                     Bisakah?!
                     Kenapa kalian hanya bisa menggertak dan merusak?
                     Kenapa?!
                     Apa telinga kalian tuli?!

MUSIK LIRIH, KEMUDIAN MERAMBAT KERAS, KERAS DAN PERLAHAN FADE OUT...BERSAMAAN LAMPU YANG SERENTAK PADAM.

SELESAI
Yogya, 11 Mei 2002





 

  
                                 
           






          
         

             

Tidak ada komentar:

filter: alpha(opacity=100); -moz-opacity: 1.0; opacity: 0.6; -khtml-opacity: 0.0; - See more at: http://langkah2membuatblog.blogspot.com/2012/12/cara-membuat-background-blog-sendiri.html#sthash.1OO2GH7H.dpuf