Selasa, 26 Agustus 2014

Merah Saga Open Recruitment

Sebagaimana lazimnya sebuah organisasi akan terus eksis tergantung pada proses kaderisasi. beberapa organisasi atau perkumpulan mengadakan pembukaan bagi kader-kader baru setiap semester  atau satu kali dalam setahun demi keberlangsungan organisasinya. begitu pula dengan komunitas Merah Saga, komunitas yang 3 tahun belakangan ini mewarnai dunia teater dan kesusatraan di Maluku dengan pementasan teater, program Merah Saga Road school  dan lomba baca puisi tingkat SMP se pulau Ambon akan membuka peluang bagi pemuda Maluku baik itu Mahasiswa mau pun pelajar untuk berkarya dalam dunia kesenian dan kesusastraan. Vietha Wakano selaku ketua Merah Saga dalam wawancaranya dengan admin ketika selesai mengadakan pembacaan puisi bersama anggota Merah Saga mengatakan "dengan pendekatan kekeluargan, Merah Saga mencoba menarik simpatik bagi setiap orang yang ingin bergabung, membangkitkan dunia teater maluku yang terkesan tak punya tempat dibandingkan provinsi-provinsi lain di Indonesia". Brosur dan selebaran Open Recruitment telah disebarkan, bagi para calon pendaftar dapat menghubungi nomor kontak yang terlampir pada brosur untuk mengambil formulir pendaftaran, rencananya pendaftaran akan ditutup pada 12 september mendatang sementara acara pembukaan dan pemberian matari akan berlangsung dari tanggal 15 september hingga selesai. kali ini Achmad Munir Wael ketua Panitia Merah Saga Open Recruitment beserta Tirta Triana sebagai Sekrertaris Panitia berjanji menyelenggarakan pembukaan anggota baru dengan metode yang tidak biasanya. "acara peengkaderan kali ini akan dikemas dengan menarik sehingga diharapkan dapat menghasilkan kader yang kreatif" ucap ketua dan sekretaris dengan serempak memamerkan kekompakannya.

Minggu, 24 Agustus 2014

"KOPI" WAKAL Simbol Kemandirian Dunia Teater Maluku

Dunia teater Maluku ditiga tahun belakangan ini tumbuh bagai jamur dimusim hujan, belum ada referensi tertulis tentang bagaimana kemunculan hingga menjadi begitu banyak masyarakat menyukai pementasan teater yang dianggap berat untuk ditonton oleh beberapa orang. yang pasti. kini dunia teater Maluku mulai membenahi diri dan berani unjuk gigi. dari berbagai sisi kita masih melihat begitu banyak kekurangan pada pementasan-pementasan teater di Maluku, mulai dari sarana yang tidak memadai, beberapa perlengkapan seperti ligthing, artistik yang masih kurang jika dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain memang masih di hadapi oleh komunitas dan sanggar-sanggar teater di Maluku. meski begitu, semangat dan kerja keras serta tekad untuk menciptakan karya terbaik dalam sebuah pementasan selalu ditunjukan oleh para penggiat teater Maluku. adalah Komunitas Pecinta Seni ( KOPI ) Wakal salah satunya. komunitas seni yang banyak berkonsentrasi pada dunia teater ini terbilang punya nama dalam pergaulan kelompok teater Maluku khusunya kota Ambon, komunitas yang digawangi oleh Almin Patta ( 21), Saefudien Nur Bastian S.Sos ( 25) dan Rieska Bastian Nawawi ( 22 ) ini mulai mendapat tempat pada berbagai pementasan bahkan mereka pun menjadi penyelenggara dalam beberapa pementasan. 
berdiri di awal tahun 2013 kopi Wakal mulai memeriahkan dunia teater Maluku. pelantikan komunitas ini di meriahkan dengan apik oleh pementasan teater dan pembacaan puisi oleh sastrawan maluku. meski harus terseok-seok dengan permasalahan dana dan propoerti yang minim, KOPI Wakal tetap konsisten mengadakan pementasan teater bagi masyarakat, jika hal ini terus berlangsung agaknya komunitas ini patut diberikan predikat sebagai simbol kemandirian Dunia Teater Maluku.

Bendera Setengah Tiang Di Langit Unpatti

 search googlePak Rengur begitulah beliau biasa disapa, kharisma beliau selalu memancar dimana saja beliau berada, dosen yang lekat dengan tatapan matanya yang tajam itu tutup usia pada jumat, 22 agustus kemarin. bagi beberapa mahasiswa Program studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan jumat kemarin adalah jumat pertama mahasiswa program studi bahasa dan sastra Indonesia Universitas Pattimura tanpa Drs Abdul Latif Rengur M.Pd. beliau merupakan dosen tertua program studi bahasa dengan banyak pengalaman, dosen yang lazim membawakan Bluss untuk Bonie milik penyair Rendra itu berpulang dalam usia 60 tahun lebih setelah mengabdi 30 tahun lebih di Universitas Pattimura. selain terkenal berwibawa dosen yang satu ini sangat disiplin dalam setiap pertemuan, bagi para mahasiswanya beliau adalah dosen yang tidak bisa menarik kata-kata yang telah ia ucapkan. meski begitu, bagi mahasiswa program studi ada banyak alasan untuk mengenang beliau pada beberapa kesempatan pertemuan. memang beberapa hari sebelum kepergiannya banyak mahasiswa yang hendak berurusan perkuliah dengan beliau menerima info tentang kondisi beliau yang kurang baik, kondisi beliau yang kurang baik tersebut telah berlangsung dalam 1 tahun belakangan. hal ini dapat dimaklumi oleh karena usia beliau yang terbilang sudah tidak muda lagi. Pada akhirnya semua yang hidup akan mati begitulah hukum alam membuat siklus kehidupan berputar. kali ini hukum tersebut diterima oleh Almarhum Dosen Mahasiswa bahasa Unpatti mungkin besok ada lagi dosen-dosen yang lain tapi segala kenangan dan kebaikan manusia akan abadi hingga selama-lamanya. semoga setiap doa yang terlahir dari kebaikan beliau menjadi teman sebaik-baik teman pada perjalanan beliau menemui Tuhan yang beliau Imani. selamat jalan Drs. A. L. Rengur Mp.d. mari meneruskan perjuangan beliau.


Kamis, 21 Agustus 2014

Wakili Provinsi Maluku, Ketua MERAH SAGA Berkantor di Palangkaraya

Vietha, ditengah
Vietha, ditengah.
Mengikuti jejak tiga anggotanya yang memastikan diri mewakili Provinsi Maluku diajang Pekan Seni Mahasiswa Nasional ke dua belas ( PEKSIMINAS XII ) di Palangkaraya Kalimantan Tengah, ketua Merah Saga periode 2013-2014 Vietha Wakanno akan berkantor sebentar di Palangkaraya hingga pekan seni berakhir. Jika ketiga anggotanya mengikuti Lomba Puisi dan Monolog Vietha mengambil bidang lomba yang berbeda yaitu Vokal Grup, memang Vietha dikalangan teman-temannya dikenal bersuara indah "maklumlah darah Maluku mengalir asli di tubuhnya "  timpal Eron Habibu ( AnggotaMerah Saga )  ketika diwawancarai pada rapat pembukaan anggota baru senin kemarin. Vietha Wakanno punya kriteria yang sempurna bila diikutsertakan, lanjutnya sambil sesekali menatap teman-teman seolah mencari pembenaran. Vietha dikalangan anggota merah saga selalu dipercaya untuk menyusun naskah musikalisasi bahkan ajang lomba musikalisasi puisi yang diikuti 12 Universitas negeri Indonesia di Makasar  oktober 2013 kawan-kawannya meraih juara 2 berkat naskah yang dia gubah. beberapa kesempatan pementasan musikalisasi puisi oleh Merah Saga Vietha menjadi bintangnya. putri Maluku yang satu ini memang berbakat dalam bidang tarik suara. siapa dulu, ketua kami.! kata Eron Habibu menutup wawancara singkat. (frk/115)


Hijabers Tulehu Teaterkan Air Mata Muslimah Palestina di Street Art 3

Adelia, kostum merah putih. berbaring, Mala. disela payung, Hana.kami punya pandangan sendiri.! barangkali begitulah yang ingin mereka katakan saat mata mereka menatap penonton yang membanjiri depan Tulehu Plaza. Bahkan cuaca malam itu ikut larut dalam dengung kesedihan yang mengalun lirih menemani adegan demi adegan teater berjudul Perempuan Palestina Dalam Dengung yang dibawakan penuh emosi oleh Mala, Tatu, Hana, Adelia, Nona, Mei, Muthia,  dan Yati semuanya siswa Madratsah Aliyah Negeri 2 Ambon. beberapa pasang mata tampak berkaca-kaca seolah mereka ikut mengarungi kesedihan perempuan Palestina yang tengah dirundung kepedihan Panjang oleh karena serangan membabi-buta tentara Israel. teater kemudian menjadi meriah ketika di tengah adegan masuk pemeran wanita gemayu yang diperankan Yanto Ode ( komunitas Merah Saga ) setelah itu adegan kembali menjadi lirih setelah Yanto keluar. adegan demi adegan teater yag dibawakan oleh anak-anak Hijabers adalah suara bernada air mata, mereka seakan tak ingin larut dalam kemeriahan pesta kemerdekaan disaat bangsa Palestina terpuruk sebab ingin benar-benar merdeka. bagi mereka bangsa Palestina berhak mendapatkan sedikit doa dan wajah sedih masyarakat Indonesia dihari kemerdekaannya oleh karena mereka tahu bahwa kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari dukungan bangsa Palestina. setidaknya begitulah yang tertera dalam buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar  Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia , M. Zein Hassan Lc. Buku ini diberi kata sambutan oleh Moh. Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI), M. Natsir (mantan Perdana Menteri RI ), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika buku ini diterbitkan) , dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution. M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peran serta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.  Pementasan teater yang diperankan oleh komunitas Hijabers Tulehu ditutup dengan pembacaan puisi Kepada Janji Dan Rasa Terimakasih serta ratusan tepukan tangan penonton yang memadati acara Street art 3 yang diselenggarakan oleh Haturessy Creatif Kingdom besutan Akbar dan akbir Marasabessy bersama kawan-kawan pemuda negeri Tulehu.


puisi Cordova ( kepada janji dan rasa terima kasih)






Dan oleh sebab itu biarkanlah bangsa lain terpuruk saja

Tapi atas nama rasa terima kasih
Seharusnya segala yang ternukil dan jadi merisaukan hati
Semua bisa Berubah sedemikian niat serta kasih
Inilah berita dari tanah dimana orang-orangnya memiskinkan diri demi bangsamu Indonesia
Mereka dengan bangganya mengucap kata merdeka untukmu dipengasingan musuh
Para wanitanya menjahit daging anaknya untuk menempel dikulit sembari mengucapkan selamat merdeka padamu
Gadis-gadisnya menyulam bunga-bunga air mata dan resah risau calon janda
Lalu kemudian mengucap selamat padamu
Bayi-bayi perempuan yang siap mati muda dengan nakalnya memahat bokong-bokong gurun
Dan terukirlah kata merdeka untukmu
Inilah salam para wanita-wanita yang berhijab dengan air mata dan bubuk mesiu
Mereka berkata untukmu merdeka.

Trisula MERAH SAGA Siap Ramaikan PEKSIMINAS XII di Palangkaraya

Setelah melewati jalur seleksi yang cukup ketat. Akhirnya, tiga anggota Comunitas Teater Merah Saga kota Ambon, Wulandari Kaliky (lomba baca Puisi), Irsal Rabidin (lomba Monolog) dan Yanto Ode (Lomba baca puisi), berhasil memastikan diri mewakili Provinsi Maluku dalam ajang dua tahunan "Pekan Seni Mahasiswa Nasional ( PEKSIMINAS XII) di Palangkaraya". Pesta seni bergengsi yang diselenggarakan dua tahun sekali ini merupakan ajang yang paling ditunggu-tunggu bagi para mahasiswa yang bergelut di dunia seni dan kesusastraan, meski sempat terjadi hal yang tidak menyenangkan oleh karena protes dari salah satu peserta pada akhirnya proses seleksi yang dilakukan tetap berjalan hingga akhir. ditemui pada sela-sela latihan bersama dengan teman-teman komunitas Merah Saga lainnya, ke-tiga peserta tersebut nampak sangat bersemangat. "rasanya ingin segera terbang ke Palangkaraya untuk langsung mengikuti lomba. kami sudah tidak sabar lagi tapi mau bagaimana, lombanya masih tiga minggu lagi". Tutur Wulan dan Yanto dengan senyum malu-malu. Disaat yang sama Ical ( Irsal Rabidin ) masih agak was-was dengan persiapannya sebagai peserta Monolog, maklumlah. Ical yang mengikuti lomba Monolog terancam berangkat tanpa Tim yang sejak awal membantunya pada lomba seleksi yag diselenggarakan di kampus Universitas Pattimura. " tanpa Tim saya merasa kewalahan pada lomba di Palangkaraya nanti, disaat peserta latihan dengan baik saya masih harus mengurus properti kemudian berkonsentrasi pada naskah meski begitu saya akan berusaha sekuat tenaga untuk mengharumkan nama Provinsi Maluku dan Universitas Pattimura. Itu adalah harga mati bagi saya". begitulah penuturan Ical dengan wajah serius. PEKSIMINAS Palangkaraya bukan saja dinanti-nanti oleh mereka berTiga, kawan-kawan mereka di Komunitas Merah Saga tak kurang deg-degan juga menunggu mereka bertiga beraksi dan membawa sekarung cerita serta pengalaman yang akan dibagi. kata mereka yang seringkali mengganggu dengan jenakanya disesi wawancara.(frk/ 21 februari 2014)


Kamis, 05 Juni 2014

Naskah Monolog PIDATO Karya Putu Fajar Arcana





SEORANG LELAKI SETENGAH BAYA TIBA-TIBA TERJAGA DARI TIDURNYA. IA MENGUSAP MUKA, MENGUCEK, DAN MENGERJAP-NGERJAPKAN MATANYA. LALU MENOLEH SEKELILING DENGAN PANDANGAN HERAN. SESEKALI MEMPERBAIKI SISIRAN RAMBUTNYA. MATANYA LUCU KETIKA MENYADARI BEGITU BANYAK ORANG DI SEKELILINGNYA. KETIKA TERDENGAR TERIAKAN-TERIAKAN YANG MEMINTANYA SEGERA BICARA, PERLAHAN IA BERDIRI. TUBUHNYA TERHUYUNG BEBERAPA KALI, TAPI KEMUDIAN IA MULAI BISA MENGUASAI DIRI

Saudara-saudara, saya diundang kemari untuk berpidato. Sesuatu yang tak pernah saya bayangkan selama hidup saya. Sebab pidato bagi saya lebih merupakan sebuah kesaksian, ketimbang melontar-lontarkan pepesan kosong. Apalagi sekarang saya harus berpidato di hadapan Saudara-Saudara, orang-orang berpengetahuan luas, kaum intelektual yang sering nonggol dalam talk show di televisi. Saya hanya orang kecil, orang desa yang sama sekali tidak memiliki referensi tentang politik. Politik? Ssttt…

(MENUTUP BIBIR DENGAN TELUNJUK, LALU BERBISIK)


jangan keras-keras…dan tolong jangan dikabarkan kepada yang tidak hadir di sini, saya tak suka politikus. Mereka ini kaum mencla-mencle, tak ada logika yang lurus. Seperti besi ditempa, semakin dibakar semakin mudah dipeot-peotkan. Tak ada istilah sahabat atau seteru, semuanya adalah alat untuk mencapai kuasa. Terkadang saya pikir mereka….

(CELINGUKAN MENOLEH KE SEKELILING)

serombongan tikus yang hidup dalam got di sepanjang jalan-jalan kota. Di musim kemarau mereka bisa berkeliaran semaunya, untuk mencuri roti mereka bisa menggerogoti pintu-pintu rumah Saudara, tetapi di musim hujan bisa menebar leptospirosis. Makanya banyak orang kota yang berpikiran tidak waras, karena kencing tikus. Tentu tidak termasuk Saudara, bukan? Karena saya tahu Saudara-Saudara adalah orang-orang yang berpengetahuan luas dan tidak suka mencla-mencle.
Apakah Saudara-Saudara bersedia dipimpin oleh serombongan tikus? Saya kira pasti tidak, karena kalau bersedia Saudara-Saudara saya cap sama dengan para politikus itu, yaitu anggota dari gerombolan tikus…

(SEPERTI MENDENGAR CELETUKAN ORANG)


Apa? He-he-heh, sssttt…ingat jangan sampai terdengar yang lain. Saya bisa diciduk. Nah ini, soal ciduk-menciduk, mungkin Saudara-Saudara masih ingat sewaktu saya diculik dari rumah saya. Itu sudah terjadi pada bulan Desember tahun 1965. Kira-kira usia saya waktu itu 20 tahun. Mestinya saya sudah tamat SMA, tetapi karena kami termasuk keluarga miskin yang hanya hidup dari hasil sawah, saya terpaksa putus sekolah. Kemudian saya memang diajak untuk rapat-rapat, bagaimana mendapatkan tanah-tanah sawah kami kembali. Selama ini orang tua saya hanya menjadi petani penggarap di bekas sawahnya sendiri. Sudah lama sawah kami diambil oleh para tuan tanah. Mereka menjerat kami dengan utang lalu mencuri periuk nasi kami.
Malam itu, Saudara, hujan gerimis dan lolong anjing begini….Aaauuu….Auuumm

(MELOLONG SEPERTI ANJING).


Saya baru saja menyulut rokok jagung, ketika tiba-tiba serombongan orang berseragam hitam dengan selempang pedang, ah bukan, mungkin kelewang di punggungnya membekuk saya.

“Saudara ikut kami…!” kata salah seorang yang bertubuh paling besar. Ia mencengkeram lengan kanan saya. Lolong anjing terdengar lagi, aaauuu, auumm…Saya bergidik. Ketika ia kemudian menambahkan berkata,”Saudara antek-antek PKI…!” saya baru sadar bahwa nyawa saya di ujung tanduk. Waktu itu, Saudara tahu, tuduhan seperti ini bagai vonis mati. Nyali saya tiba-tiba ciut. Darah di kepala saya seperti disedot vacuum cleaner, muka saya jadi pucat pasi. Saya seperti mayat yang begitu saja dilemparkan ke liang kubur.
 

Ketika rombongan yang kukira para jagal itu menyeret saya, meski dengan memelas saya memberanikan diri berkata,”Bapak-Bapak, pasti salah tangkap…”


“Sebaiknya pergunakan kesempatan ini untuk mengatakan hal-hal penting, seperti pesan kepada keluarga,” kata yang berkepala plontos.


“Bapak-Bapak pasti salah tangkap. Pasti bukan saya yang dimaksud,” kata saya lagi.
Saudara-Saudara dalam situasi seperti ini saya pikir tindakan Saudara akan sama dengan tindakan saya. Saya harus menolak tuduhan menjadi antek PKI itu. Sebab, terus terang, saya terpaksa buka kartu di hadapan Saudara-Saudara, saya memang pernah diajak untuk menjadi anggota partai komunis itu, tetapi saya menolak. Seperti juga Saudara tahu, saya tak mau terlibat politik. Urusan saya urusan yang sangat pragmatis, saya cuma ingin kami semua di desa memiliki tanah yang cukup sebagai tumpuan hidup kami sehari-hari. Tak ada lagi yang bisa diharapkan di zaman partai-partai sibuk merebut kekuasaan. Nasib rakyat kecil seperti saya tergeletak di ujung kaki mereka. Setiap saat dengan mudah mereka menunjuk ke arah mana kami mesti berjalan. Ah, nasib sudah tidak lagi berada di tangan masing-masing.
 

Jelas nama saya sudah dikorupsi. Saat-saat kampanye mereka dengan mudah akan memanipulasi begini: Saudara-Saudara partai ini partai milik wong cilik, partai yang berjuang untuk orang-orang kecil dan pinggiran seperti Saudara-Saudara. Saudara-Saudara tahu kami tidak akan membiarkan nasib Saudara-Saudara tergantung di ketiak para tuan tanah, di mana Saudara-Saudara menjadi buruh di tanah milik Saudara sendiri. Kami datang membawa harapan, kami adalah matahari yang tiba-tiba terbit dari balik bukit. Dan memberi sinar kepada kesuraman hidup Saudara-Saudara. Cuma, kalau Saudara-Saudara tidak berada satu barisan dengan kami, bagaimana kami bisa memperjuangkan nasib Saudara-Saudara. Apa Saudara-Saudara mau bergabung bersama kami?

Kalau Saudara-Saudara menolak berarti Saudara-Saudara juga menolak memperbaiki nasib bangsa. Dan itu pengkhianatan yang tidak bisa dimaafkan, tidak bisa dimaafkan, karena Saudara-Saudara berarti juga berlindung di balik punggung para tuan tanah, yang selama ini menghisap darah di kepala Saudara-Saudara…


Nah, Saudara-Saudara sudah dengar tadi kan? Saya jijik, saya muak dengan ajakan-ajakan begini. Kenapa semua orang yang datang kepada kami selalu membawa janji-janji. Mereka tidak pernah datang sebagai sahabat yang tulus, yang begitu sungguh-sungguh ingin mengangkat hidup kami yang melarat ini…Eh sudah begitu pakai mengancam lagi.

Huk-huk….izinkan saya menangis Saudara. Sudah lama kita lupa bagaimana caranya menangis yang baik. Tangis-tangisan yang setiap hari saya saksikan di televisi, telah menjadi semacam sandiwara, yang berusaha membuat kita terharu. Padahal semuanya adalah semu, kita bagai hidup di tengah bayang-bayang. Tak ada lagi ketulusan di negeri ini. Bahkan untuk sekadar menangis, kita pun tega bersandiwara…huk-huk…

“NAMA Saudara ada dalam daftar….!” kata lelaki yang bertubuh besar dan kekar.

“Makanya jangan rewel…”


“Bapak-Bapak salah tangkap…” Mulut saya lalu seperti terkunci. Saya tidak mampu mengatakan hal lain. Karena saya pikir hanya kata-kata ini yang bisa menyelamatkan nyawa saya sekarang.

“Saudara benar bernama Tell, Tell…” Saya menunggu untuk menguji apakah para penjagal ini benar-benar mengetahui nama saya. Karena saya yakin pastilah ia salah tangkap. Saya tidak pernah merasa menjadi aktivis partai untuk memperjuangkan hak-hak petani. Saya cuma tahu bahwa kami tidak lagi bisa seenaknya mengolah tanah. Ayah saya hanya buruh yang diupah untuk bekerja di atas tanah miliknya. Semua hasil panen tidak pernah lagi mengisi lumbung-lumbung rumah kami. Setiap panen, kami hanya bisa melelehkan air mata menyaksikan padi-padi itu, ah padi-padi itu, oh tebu-tebu itu, diangkut entah ke mana. Dan kami dibiarkan seperti tikus yang mengais-ngais sisa. Apalah daya seekor tikus di bawah batang padi yang telah dipanen. Hanya rumput yang tersisa. Dan kami, para pemakan rumput yang tumbuh di bawah kaki-kaki para tuan tanah. Oh hidup ini sungguh kejam, para pemilik pun tak berdaya berhadapan dengan penguasa, karena pemilik belum tentu berkuasa. Oh, huk-huk…(Menangis…) Ah, saya menangis lagi, mohon maaf kalau saya tiba-tiba jadi cengeng, Saudara-Saudara.

“Saudara Teler, ini bukan saatnya menangis. Kalau Saudara masih percaya Tuhan ini saatnya untuk berdoa. Kami mentolerir soal-soal itu,” kata yang berkepala plontos kemudian. Sudah saya duga, mereka pasti salah tangkap.

“Nama saya Meler, Pak…” Saya sebut nama saya yang sebenarnya. Tentulah dengan maksud agar para penjagal ini segera sadar bahwa saya bukan orang yang dimaksud. Dan kemudian dengan memohon maaf, saya akan dilepaskan.

“Mau Teler kek, Meler kek, Saudara sudah terlanjur kami tangkap, pantang untuk mengembalikan barang yang telah kami ambil…” kata yang bertubuh besar.

Barang? Coba, coba, apakah cerita saya ini tidak menyentuh hati Saudara-Saudara. Seharusnya Saudara-Saudara bersimpati kepada saya dan kalau mungkin membantu saya agar terbebaskan dari orang-orang yang menyeramkan itu. Bagaimana mungkin seorang manusia, yang dilindungi oleh aturan seperti HAM, disamakan seperti barang. Apakah dunia ini sudah begitu bengisnya. Manusia-manusia yang hidup di dalamnya sudah tidak sanggup lagi membedakan mana barang dan manusia. Sesosok tubuh yang tidak bernyawa sekali pun, nilainya tidak bisa disamakan dengan barang. Apalagi saya, seseorang yang masih memiliki hak atas nyawanya sendiri.

Tetapi begitulah di zaman itu Saudara, penangkapan seorang anak manusia disamakan dengan memungut kerikil dari tepi jalan. Kapan pun dikehendaki kerikil itu akan dilemparkan ke dasar jurang. Dan Saudara tidak bisa protes, kalau sewaktu-waktu nyawa Saudara disamakan nilainya dengan sebuah kerikil. Artinya Saudara mesti siap mental kapan pun akan disembelih, seperti saya…

TERDENGAR SUARA GURUH DISERTAI KILAT MENYAMBAR, LANGIT GELAP. GERIMIS TURUN…SUASANA INI SANGAT MENCEKAM


Saudara, di malam yang gelap saya digiring ke sebuah tempat. Kepala saya ditutup dengan baju kaos yang saya kenakan ketika duduk di beranda tadi sore. Mereka menaikkan kami ke sebuah truk yang kemudian membawa kami kemari, sebuah gudang tua yang saya kira letaknya di pinggiran kota. Sewaktu dijerumuskan seperti membuang bangkai anjing ke kali, saya masih bisa merasakan panas cuaca perkotaan. Asap dari cerobong pabrik gula masih tercium hidung saya. Tapi di daerah ini memang bertebaran pabrik gula, tentu saja saya tidak bisa membedakan aroma masing-masing pabrik itu. Apa Saudara sanggup membedakan pabrik gula ini aromanya begini, pabrik itu aromanya begitu…Saya yang hidup di sekitar perkebunan tebu saja belum memiliki penciuman setajam anjing, apalagi Saudara yang hidup di perkotaan dan bahkan tidak mengenal pohon tebu…

Di dalam gudang yang pengap, saya lihat puluhan orang duduk di lantai dengan tangan terikat. Sekilas beberapa di antaranya saya kenal. Mereka sebagian besar para petani yang hidupnya serba kekurangan seperti saya. Bagaimana mungkin para petani miskin, tak melek huruf, apalagi politik, menjadi lokomotif penumbangan sebuah rezim. Ah, Saudara banyak yang tidak bisa dimengerti di sini.

Ketika saya ditendang agar bergabung dengan orang-orang ini, saya baru sadar kalau lantai yang saya pijak penuh genangan darah. Samar-samar genangan itu hampir-hampir mencapai mata kaki saya. Ketika saya mencoba jongkok untuk memastikan bau amis, di atas… saya kira di sebuah balkon, terdengar derap sepatu tentara. Dalam beberapa saat para tentara telah berbaris mengambil posisi di sepanjang balkon.


Oh, Tuhan, di sinilah masa muda saya akan berakhir. Saudara, hanya malaikat yang bisa menolong saya. Sebentar lagi kalau bedil sudah dikokang, hingga terdengar suara, krakk…krakk…krakk…dan kemudian bergema letusan berkali-kali, timah-timah panas akan bersarang dalam tubuh saya. Dan saya, kami semua akan roboh, setelah itu, setelah itu, darah kami akan membanjiri lantai ini. Mungkin tingginya akan mencapai lutut Saudara-Saudara.


Diam-diam saya berdoa. Saya mengucapkan rasa syukur diberi pilihan mati di ujung moncong senapan. Paman saya, Juwena, sebagaimana cerita yang kemudian saya dengar harus mati dengan kepala terpisah dari badannya. Setelah diculik seperti saya, ia digiring ke sebuah tepi jurang di pinggir pantai. Di situlah para algojo memenggal lehernya.


Kepalanya berguling dan tubuhnya jatuh ke pantai. Bersamanya juga dibantai begitu banyak manusia yang belum tentu mengerti riwayat kesalahannya.
 
Ketika air surut mayat-mayat itu seperti ikan lemuru yang terdampar dan busuk. Baunya menyusup di antara pohon-pohon kelapa sepanjang pantai. Lalu menabrak pintu-pintu rumah warga. Tetapi tak ada yang berpikir itu bau mayat, apalagi perduli. Sebab keperdulian saja sudah cukup mengantarkan Saudara-Saudara ke tempat-tempat penjagalan. Sementara, Saudara ooohh… kepala mereka dipamerkan di pos-pos jaga. Konon itu menjadi contoh buat orang-orang yang terlibat. Apakah Saudara-Saudara tidak berpikir, sebagaimana yang saya pertanyakan sekarang ini, mengapa bangsa yang konon ramah-tamah dan mengerti sopan-santun ini, bisa begitu liar dan bengis.
Saya bergidik. Di sinilah di negeri yang konon dilahirkan ketika para bidadari bertemu dengan dewa-dewa, ketika bulan bersatu dengan matahari, tangis sudah kehilangan maknanya. Tak ada gunanya lagi menangis. Air mata ini tiba-tiba kering, ketika terdengar ratusan ribu orang dibantai sebagai sekawanan anjing yang dituduh menyebar rabies. Mereka ketakutan ketularan gila, mereka ketakutan dari mayat-mayat itu akan muncul belatung. Kalaupun mayat-mayat itu kemudian dikuburkan, bukan karena mereka tahu bagaimana selayaknya memperlakukan jenazah, tetapi karena mereka takut dari jasad-jasad itu akan menyembur penyakit. Dan pada suatu hari seluruh penghuni kota akan tertular. Artinya Saudara-Saudara, mereka juga memiliki ketakutan yang sama sebagaimana ketakutan saya sekarang ini.


Karena tempias cahaya lampu saya melihat genangan darah di lantai berkilau. Sebentar lagi ketika seruan,”tembaaaakk…!” menggelegar menembus gelap, darah saya, darah kami malam ini akan menjadi bagian dari genangan itu. Apakah bau amis darah kami tidak cukup menjadi pemuas naluri setan yang bersarang di hati para penjagal ini. Apakah harus jatuh ratusan ribu korban lagi dengan dalih menebus kesalahan yang diperbuat oleh segelintir elite, yang namanya pun tidak pernah kami dengar.

Maaf Saudara-Saudara, saya lupa, saya harus berdoa. Sebab mati bagi saya adalah peristiwa sakral, yang mesti didahului dengan doa-doa. Apalagi sekarang saya diberi “anugerah” untuk mengetahui kapan saya harus mati. Saya yakin tak ada satu pun di antara Saudara-Saudara yang sudah tahu hari kematiannya. Tetapi, tetapi sebentar… apa gunanya berdoa, toh sebentar lagi saya akan mati. Saudara-Saudara jangan salah paham, doa-doa diturunkan bukan hanya untuk memohon pertolongan, tetapi yang lebih penting adalah membuat ketenteraman, sehingga tabah menghadapi hari kiamat sekali pun. Jadi biarkan saya berdoa dengan khusyuk sebentar…
SAUDARA belum sempat saya membuka mata, tiba-tiba berondongan peluru menghujani kami. Banyak di antara kami yang panik karena tidak menduga akan secepat itu kami harus menjemput ajal. Di tengah keputus-asaan yang dalam, sejak tadi diam-diam kami tetap berharap akan datang penyelamat, seseorang yang mampu memberi pencerahan bahwa apa yang sekarang menimpa bangsa ini hanya kekeliruan di dalam memahami ideologi. Perbedaan ideologi tidak harus berakhir dengan saling bantai. Bukankah Saudara-Saudara juga tahu, ideologi hanyalah kendaraan yang pada akhirnya membawa kita pada tujuan yang sama. Kalau Saudara-Saudara menyadari itu, bukankah berkuasa hanya sebuah kesempatan yang diberikan dan bahkan ditakdirkan untuk membawa kita semua, apa pun ideologinya, pada keharmonisan, kesejahteraan, dan kedamaian.


Dengan tenang saya menyelinap di balik drum. Saya pikir kalau kematian itu belum disabdakan betapa pun buruknya situasi, saya akan selamat. Dalam temaram cahaya, dari balik drum di sudut ruangan itu, saya lihat banyak orang yang terkapar. Beberapa di antaranya berupaya menyelamatkan diri dengan mencoba menggapai balkon. Tetapi tentu saja berondongan peluru jauh lebih cepat ketimbang mereka yang merangkak dalam genangan darah. Mereka pun akhirnya terkapar. Dan darah-darah mereka tumpah entah untuk apa, saya tidak paham. Inikah politik itu? Beginikah caranya mencapai cita-cita adil dan makmur itu?


Saudara-Saudara mungkin sependapat dengan saya, bahwa jalan kekerasan hampir pasti akan menuai kekerasan yang lain. Lagi-lagi saya bergidik…Kalau toh saya harus mati sekarang, apakah kekerasan akan berhenti di sini? Apakah kekerasan akan berhenti di balik pintu gudang tua ini? Siapa yang bisa menjamin bahwa tumpukan jasad kami sudah cukup berarti untuk menghentikan pembataian.

Saudara? Saudara bisa dan berani? Kalau tidak ada yang berani menjamin, saya tidak rela menjadi tumbal karena kerakusan Saudara-Saudara. Bahkan dengan alasan memulihkan stabilitas pun, apakah Saudara-Saudara akan membiarkan orang-orang yang tidak mengerti politik seperti saya dibantai seperti anjing. Apakah Saudara-Saudara yakin kelas petani seperti kami bisa mengancam kekuasaan?

Kami orang-orang berpikiran sederhana. Bisa turun ke sawah untuk meneruskan hidup esok hari saja sudah cukup. Pendidikan tidak menjadi prioritas, apalagi kekuasaan. Apa yang kami mengerti tentang kekuasaan? Kami tidak perduli siapa pun yang berkuasa, apa pun ideologinya, karena kami cuma mau hidup. Tetapi kami tidak mau menumpang hidup di ketiak para tuan tanah. Kami ingin bebas menentukan nasib kami.


Sungguh tak saya duga, Saudara-Saudara, drum di mana saya merasa akan selamat, tiba-tiba diberondong peluru. Dalam beberapa saat, drum itu meledak dan api membubung menjilat sampai ke atap. Dan saya…saya…terbakar Saudara. Seluruh tubuh saya terasa panas, panas. Bau hangus daging menyebar ke mana-mana. Tak ada yang bisa saya lakukan lagi kecuali berteriak: “Tembak, tembak saya. Meski saya tidak rela, tetapi izinkan saya mati dengan cara yang lebih beradab…Tembak, tembak saya, bajingan…!”

Saya roboh. Tetapi tak saya dengar letusan senapan. Pastilah saya akan mati hangus. Samar-samar saya lihat atap rumah mulai runtuh. Kobaran api rupanya telah membakar seluruh gudang. Orang-orang itu? Ah, saya tidak tahu apakah mereka selamat atau tidak. Saya tidak bisa melanjutkan cerita ini, karena ingatan saya mulai kabur dan pelan-pelan menghilang…


Itulah Saudara-Saudara saya ingin sekali bercerita banyak kepada Saudara-Saudara. Tetapi saya tidak pernah diberi kesempatan, sampai akhirnya saya datang lewat tubuh saudara saya ini. Ia tak lain saudara bungsu saya. Tolong setelah saya pergi sampaikan kepadanya, bahwa saya sangat berterima kasih atas pinjaman tubuhnya. Semoga ia selamat dan tidak mati konyol seperti saya…

TUBUH LELAKI ITU TIBA-TIBA MELOROT DAN KEMUDIAN JATUH TERTIDUR. KETIKA PERLAHAN BANGUN DAN MENGUSAP-USAP MATA, LALU MENGERJAP-NGERJAP LUCU BERKATA…


Mengapa Saudara-Saudara berkumpul di sini? Saya tidak apa-apa. Sudah ya saya harus kembali bekerja, bubar-bubar. Ah apa, jatuh, tadi saya jatuh, pingsan? Saya pingsan…Ah saya baik-baik saja kok. Mungkin Saudara-Saudara yang pingsan, lalu bisa saja menganggap saya juga ikut pingsan. Ayo bubar dong, saya sibuk dan harus kembali memeriksa pasien-pasein saya. Saudara perlu tahu, Puskesmas ini letaknya begitu jauh dari permukiman, jadi terkadang saya ngeri tinggal di sini. Untung juga ya Saudara-Saudara datang…Ah, apa? Saudara-Saudara semua pasien? Saya tidak sanggup mengobati begitu banyak orang…Kita perlu psikiater!
filter: alpha(opacity=100); -moz-opacity: 1.0; opacity: 0.6; -khtml-opacity: 0.0; - See more at: http://langkah2membuatblog.blogspot.com/2012/12/cara-membuat-background-blog-sendiri.html#sthash.1OO2GH7H.dpuf