Senin, 04 Juli 2011

TUGAS RINGKASAN PRAGMATIK



BAB VI
PRAGMATIK

1.      Pendahuluan

            Pragmatik adalah ancangan wacana yang menguraikan tiga konsep (makna,konteks,dan komunkasi) yang sangat luas dan rumit. Tidak heran bahwa lingkup pragmatic yang bgitu luas, sehingga pragmatic menghadapi banyak dilemma yang serupa dengan yang dihadapi oleh analisi wacana. Levinson (1983),misalnya, mencurahkan perhatian pada problem definisi di seluruh buku teks pragmatiknya, dan dia tak satu pun menemukan dengan sukses mendekati bidang tersebut.

2.      Definisi Pragmatik

            Pragmatik didefinisikan oleh Morris (1938) sebagai suatu cabang semiotic, ilmu tentang tanda (lihat Givon, 1989: 2-25, untuk pembahasan sumber aslinya). Morris memandang semiosis (proses di mana sesuatu berfungsi sebagai tanda) mempunyai 4 bagian. Tanda (sign) merupakan seperangkat tindakan sebagai tanda; penanda (designatum) adalah kepada apa tanda tersebut mengacu; interpretant adalah efek dari tanda; interpreter adalah individu yang berpengaruh dengan tanda tersebut,ambil cara lain,Sesutu adalah tanda dari sebuah designatum untuk sebuah interpreter kepada tingkatan interpreter mengambil nilai dari designator dalam sifat kehadiran tanda.

2.1   Makna Penutur
Konsep utama yang penting dari pragmatic model Grice adalah makna penutur. Sebagaimana kita ketahui, makna penutur tidak hanyamemberikan perbedaan antara dua hal makna (pembagian antara makna semantic dan makna pragmatic), dan juga pandanan definite tentang komunikasi manusia yan memfokuskan pada maksud/tujuan (bab 11). Grice (1957) memisahkan makna non-alami (meaning-nn) dari makna alami.
Strawson (1964:155) memisahkan formula maksud dalam Grice tidak tiga,tetapi dua. Dalam terminologi Strawson, sesuatu makan oleh x, S kehendak bermaksut memilih:
a)      Tuturan seseorang tentang x untuk menghasilkan respons definite (r) dalam mitra tutur definite
b)      A mengenali maksud S (a);
c)       Pengenalan A tentang maksud S (a) berfungsi sebagai bagian dari alasan A untuk respons A (r)

2.2   Prinsip Kerja Sama

Agar mengerti prinsip kerja sama (PK), perlu menggambarkan Grice tentang makna logis dalam relefansinya dengan bahasa alamia. Karena impli katur berhubunga dengan makna smantik, “tanda” tentang penting dalam makna non-alami. Mengawali dari observasi yang paling umum, Grice (hlm.45) mengajukan sebuah prinsip umum bahwa partisipan diharapkan mengobservasi:”buatlah sumbangan percakapan anda sedemikian rupa sebagaimana diharapkan, pada tingkat percakapan yang bersangkutan, oleh tujuan percakapan yang lazim/diketahui/disepakati atau oleh arah percakapan yang sedang anda ikuti.
 
3.      Acuan Peristilahan: Proses Pragmatik dalam Wacana

            Pragmatik model Grice memberikan sebuah cara untuk menganalisis inferensi makna penutur: bagaimana mitra tutur menduga maksud yang mendasari tuturan penutur. Ini tidak dimaksudkan sebagai ancangan pada analisis wacana; misalnya; untuk tahapan tuturan.

3.1   Acuan sebagai Sebuah Proses Pragmati dalam Wacana
Searle (1969:bab 4) memadang, reverensi sebagai tindak tutur, yang diatur oleh: kondisi-kondisi yang serupa dengan yang mengatur performansi tindakan, seperti berjanji atau meminta (bab 3). Clark dan Wilkes Gibbs (1986) lebih lanjut berbicara tentang referensi sebagai”proses kolaborasi”.
Akan tetapi, Grice sendiri tidak mempertimbangkan referensi secara detail. Grice memasukan”identitas beberapa referensi yang mungkin terlibat” (1975:50), bersama dengan makna konvensional dari kata-kata, sebagai bagian dari informasi yang dipercaya dalam perhitungan implikatur yang bersifat percakapan.
   
3.2    Analisis Pokok Model Grice: kuantitas dan Relevansi
Perbedaan dalam dua istilah definiteness dan eksplicitness diantaranya acuan dapat diasosiasikan dengan pragmatic pada umumnya dan dengan maksim-maksim model Grice tentang kuantitas dan relevansi. Sama pentingnya dengan kuantitas dari infornasi yang disampaikan dalam acuan peristilahan yang kusus, tetapi relevan dengan informasi tersebut (Kronfel:1990) berbeda antara fungsional dan relevansi percakapan.

3.3   Acuan sebagai Proses Wacana
Acuan mungkin dilihat sebagai tahapan problem dari menganalisis acuan peristilahan”saja”, kami mungkin menganalisis tahapan acuan: bagaimana reverensi dimulai? Bagaimana reverensi dilanjutkan? Pembatasan dalam perspektif ini sangat penting karena membuat kami memandang reverensi dalam peristilahan dikenal pada analisis wacana.                           
3.4    Pentingnya Metode dan Data
Sebelum melanjutkan untuk menerapkan pragmatikmodel Grice pada beberapa persoalan yang muncul:penting untuk membuat observasi tentang metode dan data. Pragmatic kontemporer adalah bagian dari linguistic (Levinson,1983) yang mengambil data konteks sebuah hipotesis dan menyebutnya tuturan.

4.      Analisis Sampel: Tahapan Acuan dalam Cerita

            Analisis sampel dalam bagian ini berdasarkan pada ekspresi-ekspresi penunjuk dalam wacana khusus-sebuah arasi.
4.1   Data
Cerita adalah teks yang berguna untuk menganalisis acuan peristilahan. Dalam menceritakan sebuah cerita, penutur mengontrksi, sebuah dunia cerita di mana kesatuan-kesatuan yang jumlahnya terbatas bertindak dan berinteraksi satu sama lain dalam sebuah tempat  dan dalam jangka waktu yang ditentukan.
4.2   Analisis
4.2.2 Referen 1: ‘passenger’ (penumpang)
‘Passenger’ adalah seorang yang bertindak dalam suatu kapasitas situasi definite: seorang ‘passenger’ membayar biaya ke travel. Penumpang cab driver (taksi) kadang-kadang disebut “rider” (pengendara) dan apa yang mereka bayar adalah ‘fare’ (ongkos). Inilah hubungan yang memungkinkan kata ‘fare’ digunakan untuk menimbulkan referen ‘passenger’.
4.2.2 Referen 2: ;two friends’
Penyebutan pertama dari referen 2 adalah two friends. Kepentingan utama referen ini dalam cerita terebut adalah menjadi bagian dari ‘they’ referen kolektif terdiri dari ‘passenger’ dan ‘two friends’. 
4.2.3 Referen 3: ‘they’
Referen 3 adalah yang paling bermasalah dalam cerita, dan menimbulkan beberapa masalah sulit yang berkaitan tidak hanya referen, tetapi pragmatic pada umumya, misalnya apakah mitra tutur mampu mengenali maksud referen penutur, potensi ketidakjeasan dan pergantian makna pronoun, dan pentingnya struktur wacana untuk interpretasi pronoun.

4.3   Rinkasan : Tahapan, Relevansi, dan Kuantitas Acuan

Penyebutan pertama diinterpretasikan secara tekstual dan kontekstual dengan asumsilatar belakang yang disediakan tentang pembagian pengetahuan: penyebutan pertama relevan dengan informasi yang didasarkan pada konteks pengetahuan H (meliputi pengetahuan latar belakang umum tentang kesatuan lain dalam bidangnya). Penyebutan berikutnya di ambil dari sumber informasi tambahan,yaitu informasi yang secara tekstual telah diputuskan (meliputi, informasi yang tersedia melalui penyebutan pertama).
Penyebutabn berikutnya dalam cerita Gary juga menyebutkan bahwa kantitas dan relevansi bisa bersama-sama mendefinisikan kondisi pragmatis yang mendasari interpretasi tentang istilah acuan yang berbeda.

5.      Pragmatik Model Grice sebagai Sebuah Ancangan Wacana

            Kami telah menyimpulkan dengan mengatakan bahwa tahapan acuan merupakan hasil yang secara pragmatic didasarkan pada tekanan ketentuan,ketepatan kuantitas informasi dalam cara-cara yang relevan, dan jika struktur wacana diciptakan (dalam bagian) melalui prinsip kerja sama.
Kami melihat bahwa gagasan model Grice tentang kuantitas dan relevansi informasi (bandingkan Horn,1985b; Levinson, 1983, 1987; Sperber dan Wilson, 1986) dapat membantu memecahkan problem interpretasi tuturan yang bergantung pada penilaian kontribusi dari berbagai jenis konteks untuk penginterpretasian tersebut.
BAB VII

ANALISIS PERCAKAPAN

1.Pendahuluan

            Analisis percakapan (PK) menawarkan sebuah ancangan wacan  yang dinyatakan oleh sosiolog, diawali oleh Harold Garfinkel yang telah mengembangkan ancangan yang dikenal sebagai etnometodologi (terpengaruh oleh fenomenologinya Alfred Schutz),dan diterapkan khusus pada percakapan dengan ditokohi oleh Harvey Sacks,Emanuel Scheglof,dan Gail Jefferson.
Analisis percakapan (AP) menyerupai sosiolinguistik interaksional yang menitikberatkan problem aturan social,dan bagaimana bahasa bisa mencitakan dan diciptakan oleh konteks social.

2.Definisi Analisis Percakapan

            Istilah “etnometodologi” Garfinkel digunakan setelah istilah ini digunakan dalam analisis cara (“doing dan knowing”) di bidang lintas budaya. Etnobotani, sebagai contoh, ditekankan pada system khusus secara budaya tempat orang-orang ‘mengetahui tentang” (klasifikasi,penamaan dsb). Meskipun analisis percakapan tidak selalumengakui warisan etnometodologis, beberapa ide kunci dalam analisis percakapan dapat dihubungkan pada ide-ide yang diringkas di atas. Focus analisis percakapan pada percakaan, misalnya,memunculkan ketidakpercayaan idealisasi etnometodologis sebagai dasar baik untuk ilmu social ataupun tindakan manusia sehari-hari.
Meskipun analisis percakapan berasumsi bahwa jaran selalu mempunyairelevansi kontekstual seperti yang lain, tidak semua aspek konteks diasumsikan memiliki relevansi an sangat konstan.
Secara ringkas, analisis pecakapan mendekati wacana dengan memperimbangkan cara partisipan dalam pembicaraan yang membangun solusi sistematis pada masalah organisasional percakapan secara berulang-ulang.


3.Analisis Sampel: “There + BE + ITEM”

            Analisis sampel dalam bagian ini mempertimbangkan bagaimana sebuah alat tunggal ditujukan untuk pengelolaan beberapa masalah percakapan. Untuk melakukan ini, kami perlu melokalisasi semua kejadian alat itu dalam korpus penbicaraan dan mencari pola secara berulang-ulang dari penggunaan (berdasarkan distribusi secara berurutan) dalam data,menunjukkan bahwa apa yang dihipotesiskan diharapkan berurutan ditujukan secara nyata pada partisipan.
3.1 “penyebutan”,”There + BE + ITEM,”dan pasangan terdekat
3.1.1 “There +  BE + IEM” dalam pasangan pertanyaan/jawaban indepeden
Contoh:
(1)    IVEE    (a) Fact, I never hung on the corner in my live,
                                                      ‘Kenyataannya, saya tidak pernah punya pendiria dalam hidup saya.’
                                            (b) I never set in a bar my life.
                                                      ‘Saya tak pernah menemui kesulitan dalam hidup saya’.
IVER                                  (c) Yeh? Was-was there a corner bar or a tap room that
                                                      Your dad went to?
‘Ya? Apakah-adakah kesulitan atau ketukan pintu saat ayahmu                     meninggal?’
                                IVEE  (d) Oh,yeh hhhh.
Dalam (a) dan (b) IVEE telah mendiskprsikan kegiatannya pada usia belasan tahun. IVER (melalui tahap tramsisi topic,)kemudian menanyakan “was there a corner bar or tap room that your dad went to? (adakah kesulitan itu saat ayahmu pergi?) (c). IVEE menjawab menyusun fungsi pertanyaan itu dengan jawaban “yeh” (ya): keberadaan bar pojok atau tempatmnum bir”tidak diketahui dan “yeh” memastikan keberadaan itu.
pembicaraan baik yang pra urutan (Levinson 1983:345-64;Schegloff 1980) atau urutan sisipan (Jefferson 1972;bandingkan bab 5 halaman 159,170).
berikutnya tidak terjadi di dalam pasangan terdekat itu sendiri,tetapi pada akhir pasangan penbicaraan.
3.2 “There + BE +ITEM” dan organisasi giliran pada berbicara
  Diskusi kita tentang penggunaan “there + BE +ITEM” dalam pasangan tersekat membolehkankita memfokuskan pada beberapa ide kritis pada analisis percakapan: pentingnya struktur urutan dan implikasinya dalam beebicara,bagaimana distribusi konstruksi khusus dikaitkan dengan organisasi pasangan berbicara, bagaimana konstruksi khusus disebarkan dalam giliran berbicara.
3.3 “There + BE +ITEM” dan organisasi topic
Dalam bagian inin, kita mendiskusikan bagaimana “there + BE +ITEM” dapat membantu mengelola masalah ini. Saya memfokuskan pada peranan “there + BE + ITEM” dalam Sacks(1972:15-16) yang menyebutkan tahap transisi tpik.
Diskusi tentang rumah(topic 1),misalnya,dapat menjadi diskusi membagi level rumah (topic 1a);diskusi membagi level (topic 1a) dapat menjadi diskusi tentang bungalow (topik1b).
3.4 Simpulan: “there + BE + ITEM”
Analisis there+BE+ITEM menentukan kita untuk mempertimbangkan perbedaantugas yang mengesankan tidak hanya sekedar kontruksi itu sendiri (yakni,satu kontruksi dapat melayani tugas yang berlainan),tapi secara lebih umum tentang manajemen percakapan: ahli percakapan perlu mengurus (manage) problem ganda secara simultan.
Kita juga dapat mempertimbangkan apa yang dianaisis oleh analisis percakapan (AP) dari “there+ BE+ITEM” menyokong pada pengertian kita tentang rangkaian acuan. Namun, sebagai catatan rangkaian acuan tidak berpasangan yang diorganisir dengan ketet sebagai pasangan berdekatan. Rangkaian acuan sering diproduksi oleh satu orang,dengan demikian pelanggaran dua partai dibutuhkan.




4.Analisis Percakapan Sebagai Ancangan Wacana
                                            Kami telah mengamati dalam bab ini bahwa ancangan wacana analisis percakapan mempertimbangkan cara partisipan dalam percakapan mengkonstruk solusi sistematis ke arah problem tutur organisasional terdekat. Penemuan solusi tersebut hingga kedekatan analisis rangkaian kemajuan bertutur.
Ini adalah pemahaman tentang fungsi konstruksi berdasarkan pada pengamatam tentang pembagian tahapnya dalam hubungan untuk unit dan struktur tertentu. Kalau kita menemukan bahwa konstruksi yang terjadi dalam lingkungan yang cukp berbeda yang pertama, bagaimanapun mencoba untuk menjelaskan peringkat dari kejadian-kejadian dalam istilah-istilah fungsi untuk membentuk itu secara bertahap terkait pada penuturan aktual.  






















BAB VIII

ANALISIS VARIASI

1.Pendahuluan

                                            Ancangan wacana analisis variasi dalam buku ini didiskusikan hanya dari sudut linguistic. Ancangan ini secara luas berasal dari kajian variasi dan perubahan bahasa: Asumsi dasarnya sama dengan kajian variasi linguistic. (misalnya keheterogenitasan) yang dipolakan baik variasi social maupun variasi linguistic, dan pola-pola seperti itu hanya dapat ditemukan melalui penelitian yang sistematis dari masyarakat tutur. Jadi, variasionis mencoba untuk menemukan pola-pola variasi dalam distribusi dari alternative cara pengucapan sesuatu yang sama, misalnya factor social dan linguistic berpengaruh terhadap variasi cara penuturan.

2.Definisi Analisis Variasi

                                            Banyak permasalahan yang tertuju pada variasionis yaitu permasalahan yang sudah diketahui linguis pada umumnya, misalnya dalam permasalahan perubahan linguistic. Persoalan yang lain adalah perkembangan yang sangat cepat analisis variasi, hal ini memerlukan pemecahan dalam hal analisis kelebihannya secara teoritis, dan atau peralatan metodologi deskripsi linguistic (misalnya variasi bebas), atau bidang dialek (misalnya dialek perkotaan). Wacana juga menjadi masalah tersendiri pada analisis linguistic sebagaimana yang kita lihat di bawah, solusi untuk masalah-masalah ini adalah linguistic tradisional sisi dalam inside dan sisi luar outside.
2.1 Unit-unit Wacana
Labov (1972b;Labov dan Waletsky 1976) memberikan kerangka yang sistematis pada analisis variasi narasi lisan-sebuah kerangka yang mengilustrasikan dengan sangat baik ancangan variasionis pada unit-unit wacana.
2.2 Hubungan Variabel dalam Wacana
Meskipu narasi adalah sebuah contoh dari unit tekstual,penting untuk dicatat variasionis secara sederhana menfokuskan pada unit-unit analisis bukalah teks yang melekat. Seperti Labov (1972a: 188). Salah satu tugas utama variasi untuk menemukan keterbatasan pada realisasi alternatif yang menggarisbawahi bentuk seperti keterbatasan (yang dapat menjadi linguistic dan atau social) yang membantu menentukan realisasi perwakilan tunggal yang menggarisbawahi tampak pada bentuk permukaan tuturan.
2.3 Melokasikan Vernakular Tutur dalam sebuah Komunitas
Variasionis berasumsi bahwa konteks social tutur banyak memengaruhi logat penggunaan tuturan sehingga penilaian yang sangat berbeda tentang kompetensi verbal (penilaian anggota masyarakat tentang status social) mungkin dibuat tergantung pada sampel pembicaraan itu disampaikan. Ketika orang-orang mengetahui bahasa mereka sedang diobservasi dan atau dinilai bagaimanapun juga mereka boleh mengganti cara berbicara mereka pada bentuk prestise social dan atau pada bentuk-bentuk yang lebih menyerupai hal itu untuk teman bicara mereka. Sebagai tambahan pada keperluan tuturan yang mewakili logat, variasionis juga membutuhkan pembicaraan yang mewakili serangkaia bentuk (karena orang sering mengubah suara ucapannya melalui perubahan pada saat mereka mengubah gaya bahasanya) sebaik pembicaraan yang direkam dengan kualitas bagus dengan volume yang besar dai anggota komunitas pembicaraan yang berbeda (untuk memfasilitai analisis dari distribusi social pada bentuk-bentuk linguistic). Teknik ini digunakan secara tradisional untuk mengumpulkan data dengan kualitas ini adalah interviu sosiolinguistik (Labov 1984:32-42).
2.4 Rangkuman
Ancangan variosionis pada wacana berdasarkan pada realita social linguistic. Dalam beberapa cara, secara jelas linguistic meliputi ancangan variosionis pada wacana. Meskipun ancangan lainnya pada wacana (analisis percakapan bab 7) juga meneliti unit-unit dan mengutamakan hubungan yang teratur (hbungan yang berurutan) antara unit,contoh kebutuhan linguistic mereka,lebih lanjut,unit wacana seperti narasi menjadi kasus interaksi,etnografi,atau ancangan analisis percakapan pembagian ancangan disiplin mereka berasal dari sosiologi dan antropologi.
Ancangan variasionis pada wacana adalah ancangan linguistic yang mempertimbangkan konteks social pada metodologi tertentu dan keadaan analisis meskipun unit wacana seperti narasi adalah sensitive untuk konteks social yang diceritakan dan pokoknya dari nilai pembicara dan pengalaman yang subjektif,struktur cerita dapat dianalisis terpisah dari caranya dan ditempatkan secara local.

3.Analisis Sampel: “Daftar” sebagai Teks

3.1 Tipe-tipe Variasi Linguistik yang Berseberangan
Salah satu perbedaan yang paling mendasar antara narasi dan daftar adalah narasi menceritakan apa yang telah terjadi dan daftar menggambarkan sebuah kategori. Perbedaan yang nyata pada isi apa yang dikatakan dan fungsinya pada wacana.
3.1.1 Contoh yang Mengatur Kategori dalam Sebuah Datar
3.1.2 Unit-unit Daftar Merupakan Kesatuan
3.1.3 Struktur Informasi
·                                                                                    Struktur Temporer
Sudut pandang penganut Labov tentang narasi menetapkan struktur temporer sebagai kriteria utama dalam mendefinisikan narasi (2.3): informasi temporer (apa yang terjadi). 
·                                                                                    Struktur Deskriptif
Deskriptif dalam narasi khususnya ditempatkan pada latar belakang fungsi “orientasi”(Labov 1972b). 
·                                                                                    Struktur Evaluatif
Narasi dan list (daftar) berbeda dalam tingkat di mana subjektivitas manusia menuntun proses produktivitas aktivitas pokok ucapan itu sendiri.
3.1.4 Rangkuman: Variasi Lintas Tipe Teks

3.2 Variasi dalam Teks
Fokus dalam bagian ini adalah variasi dalam acuan istilah in list (dalam daftar). Problem khusus istilah mengacu dan acuan telah ditunjukkan dalam sampel pragmatic (bab 6) dan analisis percakapan (bab 7).
3.2.1 Keterbatasan Umum Wacana: Urutan Ungkapan
3.2.2Pembatasan Khusus Untuk Daftar
·                                                                                    Sisi Bagian Dalam dan Bagian Luar Daftar
Daftar ini mengungkapkan alat-alat unkapan penunjukan yang terdapat dalam wacana suatu cara untuk mengetahui hal ini ialah menemukan pada contoh di mana suatu item disebutkan sebelum dan sesudah daftar itu.
·                                                                                    Ketidakleluasaan Kategori
Karakteristik penting suatu alat-alat itu adalah dipahaminya kehadiran (juga bagian dengan eksplisit atau asumsi implicit) dari suatu kategori umum (X) dalam hubungan pada penunjukkan yang lain(XI….n).
  3.2.3 Ringkasan: Variasi di dalam teks
Kami melihat bahwa istilah acuan dalam daftar merefleksikan kategori struktur yang mendasari sebuah daftar. Pergantian antara pronomina dan frasa nomina penuh dalam daftar dibatasi oleh batas-batas level kategori dan subkategori dalam hal berbeda unit dalam daftar dihubungkan pada, dan disegmenkan dari, satu dengan yang lain.

4.Ancangan Wacana Analisis Variasi

                                            Ancangan wacana variosionis berasal dari studi kuantitatif perubahan dan variasi linguistic. Walaupun analisis tersebut secara tipical berfokus pada pembatasan-pembatasan social dan linguistic pada varian equivalen secara semantic, ancangan tersebut juga diperluas ke arah teks. Kami melihat bahwa unit dasar narasi adalah peristiwa, unit dasar daftar adalah kesatuan. Informasi utama daftar adalah deskriftif. Pembandingan tersebut merefleksikan tendensi variasiois terhadap tuturan wacana dalam istilah yang sama yang digunakan dengan orientasi linguistic secara structural: “unit-unit” beranak-pihak ke arah konstituen: “informasi” dalam pengertian proposional (meskipun fakta bahwa proposisi sendiri memilki interpretasi evaluative);”struktur” adalah aturan sintagmatis dan paradigmatis dari unit-unit dalam pola-pola berula












BAB VIIII

STRUKTUR DAN FUNGSI

1.Pendahuluan

            Wacana (discourse) telah sering dibicarakan dalam dua cara yang berbeda, struktur, yakni unit bahasa yang lebih luas dari sekedar kalimat;dan realisasi fungsi-fungsinya, yakni menggunakan bahasa untuk tujuan social, ekspresi, dan rujukan (referential) sebagaimana yang dimaksudkan (bab 2). Kita akan melihat bahwa adanya ancangan yang berbeda-beda dalam analisis wacana, sebenarnya mencoba untuk menghubungkan atau menggabungkan kedua bidang analisis tersebut, yaitu struktur dan fungsi: tidak hanya tipe-tipe analisis fungsi wacana, yang pada hakikatnya merupakan realisasi kebahasaan, yakni tentang cara-cara pembentikan stuktur.

2.Struktur dan Fungsi dalam Analisis Wacana

            Ancangan-ancangan kajian wacana tersebut merupakan teori yang berorentasi pada struktur saja atau fungsi saja, tetapi dalam prakteknya lebih merupakan penggabungan antara struktur dan fumgsi.

2.1 Dari Struktur ke Fungsi
2.1.1 Analisis Percakapan
Suatu asumsi analisis percakapan adalah bahwa interaksi merupakan struktur yang terorganisasi. Struktur yang terorganisasi ini berujud generalisasi-generalisasi terhadap bagian-bagian struktur dari peristiwa-peristiwa khusus yang amat dalam, bagaimanapun juga, struktur yang dibangun sendiri olaeh partisipan tersebut merupakan bukti-bukti yang menunjukan adanya unit-unit, eksistensi pola-pola (patterns), dan formulasi aturan-aturan.
2.1.2 Analisis Variasi
Meskipun analisis variasi juga meneliti struktur, maksudnya melakukan juga penemuan-penemuan struktur dan unit-unit yang ada dalam struktur, tetapi semuanya berbeda dengan analisis percakapan.
2.2 Dari Fungsi ke Sruktur
2.2.1 Teori Tindak Tutur
Teori tindak tutur dimulai dengan mendasarkan unit-unit analisis system yang ada diluar bahasa (yaitu maksud dan tindakan pembicara,sesuai dengan pengetahuannya terhadap aturan-aturan yang berlaku),tetapi aplikasinya pada wacana merupakan petunjuk-petunjuk bagi ancangan structural yang unit-unitnya disusun urut di dalam pola-pola yang tetap.
2.2.2 Etnografi Komunikasi
 Etnografi komunikasi adalah ancangan fungsional untuk wacana: bahasa merupakan bagian dari kehidupan social dan cultural, pemberian petunjuk pada suatu kenyataan sebelumnya, atau penciptaan kenyataan baru bagi para partisipan. Makna-makna dan fungsi-fungsi bahasa, yaitu fungsi-fungsi personal, social, dan cultural yang berkaitan dengan system tindakan dan keyakinan.
2.2.3 Sosiolinguistik Interaksional
Sosiolinguistik interaksional juga menjadi dasar ancangan fungsional terhadap wacana dengan menggabungkan struktur ke dalam analisis. Salah satu dari tugas-tugas pokok ancangan bahasa, dan hubungan antara bermacam-macam makna dan fungsi yang amat spesifik dari suatu konteks ujaran.
2.2.4 Pragmatik
Penjelasan-penjelasan fungsi bahasa dibangun atas ide dasar yang menganggap bahwa bahasa mempunyai fungsi-fungsi sebagai penemuan penjelasan-penjelasan tentang struktur bahasa yang ada di luar sisitem bahasa itu sendiri. Dengan kreteria ini, pragmatic Grice merupakan ancangan fungsional terhadap bahasa (Levinson, 1983: 97): konstruksi makna berada di luar lokasi bahasa yang tampak (per se) di dalam maksud pembicara (misalnya,maksud pembicara) dan prinsip-prinsip rasional dari komunikasi manusia (misalnya,prinsip kerja sama (cooperative principle) atau CP/PK).

3.Perbandingan Antarancangan: dari Ujaran ke Wacana

                                            Cara  yang sederhana untuk memulai perbandingan kita adalah dari istilah-istilah perbedaan ancangan hubungan dari apa yang dikatakan dalam ujaran setiap individu terhadap struktur-struktur yang terikat pada pertukaran ujaran.
Dalam pertentangan yang tajam, analisis variasi merupakan ancangan wacana yang menggabungkan struktur linguistic dan metodologi secara ekstensif. Analisis variasi mempertimbangkan bagaimana sisi depan suatu ujaran, dan tindakan-tindakan ang dinyatakan oleh ujaran-ujaran, dan tindakan-tindakan yang dinyatakan oleh ujaran-ujaran, membangun persilangan struktur klausa; struktur-struktur ini akan mengantarkan pada kekoherenan.

4.Kesimpulan

                                            Kita telah melihat bahwa tiap-tiap ancangan yang telah didiskusikan dalm buku ini tergantung pada keduanya, yaitu struktur dan fungsi. Hal ini berarti tiap-tiap ancangan memilki kelebihan dan kelemahan pada kedua sudut pandangnya, walaupun kadang-kadang pada keadaan tertentu hal itu berbeda, tetapi mungkin hal itu merupakan kelebihan bagi satu pihak yang mungkin meruakan tambahan, atau secara parsial mengimbangi keleahan dari yang lain.
Untuk meringkasnya,ancangan-acangan analisis wacana yang digambarkan dalam buku ini menganjurkan agar apa yang layak untuk menguji struktur permintaan fungsional yang sederhana dan fungsi permintaan structural yang sederhana (Sadock,1984: 142). Jadi bukan analisis-analisis structural radikal ataupun analisis-analisis fungsional yang layak untuk mengombinasikan segi-segi kedua tipe analisis yang mungkin membantu dalam menyeimbangi kelemahan-kelemahan dari satu kelebihan analisis yang lain. 
 

           
           




             





BAB X

TEKS DAN KONTEKS

1.Pendahuluan

                                            Untuk membandingkan aneka macam pandangan tentang teks dan kinteks, kami perlu menentukan kedua istilah dalam pengertian yang general (umum) untuk diaplikasikan pada semua pendekatan. Seperti yang telah dicatat sebelumnya, saya akan menggnakan istilah “teks” untuk membedakan linguistic secara material (misalnya apa yanf disebut dengan asumsi alur verbal) dari lingkungan di mana “perkataan”(atau produksi linguistic lain) terjadi (konteks).

2.Apakah Konteks itu?

                                            Ancangan terhadap wacana yang dibahas dalam buku inin memberikan perbedaan asumsi tentang aspek-aspek konteks yang relevan untuk produksi dan interpretasi tuturan.

2.1 Konteks sebagai Pengetahuan
                                            Teori tindak tutur dan memandang konteks dalam istilah pengetahuan, yaitu apa yang mungkin bisa di ketahui oleh antara si pembicara dan mitra tutur (misalnya, lembaga social, tentang keinginan dan kebutuhan orang lain tentang keaslian berpikir manusia) dan bagaimana pengetahuan membimbing/menunjukan penggunaan bahasa dan interpretasi tuturannya.
2.1.1 Teori Tindak Tutur dan Konteks
Orang-orang biasa menggunakan bahasa untuk melakukan sesuatu (menampilkan tindak tutur) sebab aturan yang bertutur adalah sebagai bagian kompetensi linguistic. Tujian pokok dari teori tindak tutur adalah untuk menentukan kegiatan tertentu digabung dengan deskripsi tentang “apa yang kita ketahui” sewaktu kita berbicara.


2.1.2 Pragmatik Model Grice dan Konteks
Pragmatik Model Grice memandang konteks sebagai kontribusi kognitif pada interpretasi tuturan. Konteks yang dimaksud adalah sangat berbeda denan yang dimaksud oleh pragmatic model Grice adalah prinsip umum bahwa para pelaku / pembicara menganggap satu sama lain sudah saling percaya dan saling memikirkan; membuat kontribusi percakapan anda seperti yang diharapkan dengan cara menerima maksud atau arah pembicaraan yang sedang berlangsung.
2.2 Konteks sebagai Situasi dan Pengetahuan
Kedua ancangan terhadap wacana yang telah dibahas di atas (teori tindak tutur dan pragmatic) memasukkan pengetahuan lingkungan social yang member kerangka tuturan sebagai bagian dari konteks kognitif di mana tuturan-tuturan itu dihasilkan dan diinterpretasikan.

2.1.1 Sosiolinguistik Interaksional dan Konteks    
Konteks sebagai situasi adalah masalah kritis terhadap sosiolinguistik interaksional. Sebenarnya salah satu bentuk utama ancangan ini adalah bahwa ancangan ini memberikan banyak sekali kehalusan pandangan interaksi social dan situasi social termasuk cara kerangka partisipan dan pembenaran itu muncul dari situasi inetraksional bahasa dan konteks terkait, bahasa memberikan konteks demikian juga bahasa diberi konteks, sehingga bahasa bukanlah hanya merupakan fingsi dalam interaksi situasi yang diciptakan,bahasa juga memebentuk dan memberi interaksi ini (Duranti dan Goodwin, 1991).
2.2.2 Etnografi Komunikasi dan Konteks
Etnografi komunikasi merupakan kombinasi ancangan lain di dalam kerangka kerja penelitian lebih besar di dalam pengetahuan kultural dan social dan praktik linguistic yang disediakan. Etnografi ini memandang konteks sebagai kognitif (apa yang kami ketahui, yang menyertai kompetensi komunikasi kami) dan social (kompetensi social dan budaya yang menggabungkan kejadian-kejadian komunikasi tertentu). Etnografi komunikasi juga memberikan cara untuk menemukan organisasi teks, yaitu bagian SPEAKING dalam konteks social ke dalam komponen-komponen yang tidak hanya menentukan situasi komunikasi tertentu (kejadian dan kegiatan) sebagai unit yang tertutup dan terkait (Hymes, 1972: 56), tetapi juga memberikan cara yang sistematis untuk membedakan satu situasi dan lainnya (kejadian dan kegiatan) yang terdiri  atas bagian model komunikasi dari suatu masyarakat.



2.2.3 Teori Tindak Tutur : Konteks sebagai Situasi
Hubungan antara konteks kognitif yang mendasari produksi general dan interpretasi bentuk tindak tutur dan dengan lingkungan actual selama tuturan dipakai sebagai tindak tutur tertentu, adalah kompleks.


2.3 Konteks sebagai Situasi dan teks : Analisis Variasi  

Pandangan para ahli variasi mengenai konteks berbeda jauh dengan pandangan sosiolinguistik interaksional mengenai konteks. misalnya, pandangan-pandangan mengenai identitas social dari kedua persepktif (pendapat). Para ahli pariasi menganggap identitas sebagai kategori social kebudayaan yang kita masuki. Identitas kami tidaklah gampang terbuka untuk control sendiri atau untuk pilihan dirinya (c.f.Eckert dan Mc Connel-Ginet,1992). Pandangan indetitas tersebut mendasari para varisionis melatih memahami identitas sebagai varibel yang sudah dikategorikan, misalnya pembicara dipahami sebagai warna putih kelas menengah, pria setengah baya dari Philadelphia, dan dia juga menjaga identitas yang sangat lama tanpa memperhatikan aktivitas atau interaksi yang sedang dilakukan.

2.4 Konteks sebagai pengetahuan,dan konteks: Analisis Percakapan

Sekilas analisis percakapan tampak mengombinasikan cara ancangan lain memandang konteks. konteks adalah pengetahuan (teori tindak tutur,pragmatic) situasi (sosiolinguistik interaksional,etnografi komunikasi) dan teks analisis variasi. Pengetahuam dan situsi adalah saling mengait. Pemahaman para partisipan terhadap lingkungannya, dan peran partisipan dalam mengkonstruksi lingkungan tersebut melalui tindakan,semuanya saling jalin. Aktivitas memberikan kesan umum tentang aturan. Aktivitas memberikan dasar praktis dan kesan intersubjektifitas (dalam pribadi) melalui kegiatan-kegiatan lain dapat ditopang (dan sistuasi yang dapat membantu menciptakan).
Hubungan ini tidak hanya membedakan pandangan CA tentang pengetahuan dari pandangan tindak tutur dan pragmatic Model Grice (dimana pengetahuan yang muncul ketik hal it bukan pengetahuan yang sedang digunakan).

2.5 Kesimpulan: Perbedaan Ancangan Konteks

Kami telah mengetahui dalam bagian ini bahwa perbedaan ancangan terhadap wacana menjadikan perbedaan asumsi tentang aspek-aspek apa yang relevan dengan produksi dan interpretasi tuturan-tuturan. Sedangkan, teori tindak tutur dan pragmatic memandang konteks terutama sebagai “pengetahuan” sosiolinguistik interaksional dan etnografi komunikasi memandang konteks sebagai “pengetahuan” dan sebagai “situasi”. Analisis variasi memandang konteks sebagai “situasi” dan “teks”. Analisis percakapan memfokuskan pada hubungan timbale balik antara “pengetahuan”, “situasi”, “dan “teks”. Bagian berikutnya secara singkat membicarakan cara ancangan yang berbeda mengenai pandangan “teks”, dan bagaimana analisis teksnya dikaitkan tidak hanya dengan pandangan konteksnya, tetapi juga pada inti analisisnya (misalnya, tuturan tunggal dan rangkap) difokuskan awalnya pada apa.
     
3.Apakah Teks Itu?

3.1 Teks dan Konteks untuk Ancangan yang Didasarkan pada Tuturan
Teori tindak tutur dan pragmatic Model Grice memfokuskan pada tuturan tunggal. Dengan diberikan focus tersebut tidak mengherankan bahwa ancangan ini tidak menawarkan cara papun untuk menganalisisteks baik sebagai konteks ata sebagai unit analisis tersendiri. Ancangan ini juga tidak menganggap (memandang) sebagaimana cara menganalisis tuturan-tuturan ganda, hubungan antar tuturan, atau keterdekatan kontribusi tuturan dengan conteks (isi) komunikatif satu dengan yang lainnya.

3.2 Teks dan Konteks untuk Ancangan yang Didasarkan pada Tuturan
Bertolak belakang dengan dua ancangan terhadap wacana yang memulai pada filosofi (teori tindak tutur,pragmatic), analisis ancangan terhadap wacana yang memulai pada antropologi,dan linguistic semuanya mulai dengan focus pada tuturan-tuturan. Ancangan ini memberikan konsep dan metode yang lebih eksplisit dengan cara menggabungkan dengan apa yang disebut dalam teks menuju konteks.
Etnografi berpendapat bahwa bahasa adalah system yang teralokasi kuat dalam sisitem kepercayaan dan pemahaman kebudayaan yang bekerja sama untuk menentukan perstiwa yang bersifat komunikasi dan komunikasi itu sendiri.
Akhirnya, seperti yang telah kami ketahui sebelmnya, analisis percakapan dan analisis variasi memasukkan teks sebagai bentuk konteks.
   


4.Kesimpulan

Semua ancangan terhadap wacana yang dibahas dalam buku ini memasukan teks dan konteks sebagai hal yang penting untuk analisis tuturan. Namun, ancangan tersebut berbeda dalam definisi konteks dan dalam pandangannya tentang bagaimana teks itu dihubungkan pada konteks. perbedaan ini berarti bahwa meskipun ancangan tersebut itu berasumsi adanya saling ketergantungan antara teks dan konteks. semuanya berbeda dalam pemahaman proses di mana pembicara/mitra tutur bergantung pada teks dan konteks untuk membangun arti dari tuturan dan koherensi hubungan antar tuturan.
Sebagai kesimpilan, kami akan menyarankan dalam rangka menjaga campuran pengulangan dalam bab ini –bahwa teks dan konteks tidak dapat dikaitkan dengan cara yang simple dan tunggal. 



Tidak ada komentar:

filter: alpha(opacity=100); -moz-opacity: 1.0; opacity: 0.6; -khtml-opacity: 0.0; - See more at: http://langkah2membuatblog.blogspot.com/2012/12/cara-membuat-background-blog-sendiri.html#sthash.1OO2GH7H.dpuf